Puputan Klungkung. Perlawanan Terakhir Kerajaan Bali Terhadap Belanda
Puputan Klungkung. Perlawanan Terakhir Kerajaan Bali Terhadap Belanda--Net
PAGARALAMPOS.COM - Puputan Klungkung merupakan sebuah peristiwa ketegangan yang terjadi antara Kerajaan Klungkung dengan Belanda pada tanggal 28 April 1908, yang berakhir tragis dengan tindakan bunuh diri (puputan) oleh Raja Ida Dewa Agung Jambe, keluarganya, dan masyarakatnya.
Kejadian ini menyiratkan perlawanan terakhir Kerajaan Klungkung terhadap dominasi kolonial Belanda di Bali, dan saat ini diperingati sebagai Hari Puputan Klungkung.
Penyebab Puputan Klungkung:
Patroli Belanda yang memasuki wilayah Kerajaan Klungkung, terutama di Desa Gelgel, dipandang sebagai pelanggaran hak kedaulatan kerajaan tersebut.
BACA JUGA:Sejarah Puri Agung Klungkung: Warisan Kerajaan Bali yang Tetap Abadi!
Serangan terhadap patroli Belanda mengakibatkan tewasnya 10 tentara Belanda, termasuk pimpinan mereka.
Belanda kemudian menuduh Kerajaan Klungkung berupaya memberontak dan mengeluarkan ultimatum untuk menyerah.
Raja Ida Dewa Agung Jambe dan rakyat Klungkung menolak untuk mematuhi ultimatum itu demi mempertahankan kedaulatan mereka.
Jalan Perang Puputan Klungkung:
Belanda melancarkan serangan ke Klungkung dari timur, barat, dan selatan.
BACA JUGA:Bagaimana Peristiwa Puputan Klungkung Membentuk Sejarah Bali? Ini Penjelasannya!
Raja Ida Dewa Agung Jambe, bersama keluarganya dan rakyatnya, bertempur dengan gagah berani hingga banyak yang gugur.
Konflik ini berakhir pada sore hari tanggal 28 April 1908, dengan kemenangan pihak Belanda.
Tanggal 28 April 1908 mencatat sebuah peristiwa menyedihkan di Bali, yang dikenal dengan nama Puputan Klungkung.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
