Lalu datanglah kelompok-kelompok revolusioner.
Beberapa di antaranya bekas anggota PETA, laskar-laskar rakyat, dan kader komunis yang melihat peluang untuk mengguncang tatanan.
Mereka tidak sekadar marah.
Mereka ingin mengubah.
BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Candi Brahu: Warisan Budaya dari Jantung Kerajaan Majapahit!
Mengambil alih Menghukum para elit lokal yang dianggap bersekongkol dengan penjajah.
Dalam hitungan hari, pemerintahan lokal digulingkan.
Banyak pejabat ditangkap, sebagian bahkan dibunuh.
Istilah rakyat melawan bukan kiasan di sini.
BACA JUGA:Menyikapi Kisah Sejarah Candi Kedulan: Jejak Peradaban Kuno di Lereng Merapi!
Mereka benar-benar melawan mengangkat senjata, menyusun pemerintahan sendiri, dan menjalankan keadilan ala mereka.
Namun, euforia revolusi itu tak bertahan lama.
Pemerintah pusat di Yogyakarta yang saat itu masih dalam masa transisi tak bisa membiarkan gerakan seperti ini menjalar.
Maka dikirimlah tentara untuk menertibkan.
Beberapa tokoh ditangkap, perlawanan dilumpuhkan.