Viral Klitih! Ini Sejarah tentang klitih

Sabtu 14-06-2025,05:06 WIB
Reporter : Almi
Editor : Almi

BACA JUGA: Makanan Berkuah Yang Memikat Lidah! Simak Ini Resep Soto Daging Madura Sajian Luar Biasa

Mujahidah (2015) menyebutkan bahwa pola pengasuhan orang tua dan lingkup keluarga mengambil peran besar dalam perkembangan karakter seorang anak.

Apabila pola pengasuhan permisif, yang ditandai dengan dominasi dan kebebasan diberikan penuh kepada anak, maka akan menghasilkan karakteristik anak yang berpotensi untuk melakukan pelanggaran norma, perilaku impulsif dan agresif, hingga kurangnya keterampilan secara sosial, seperti klitih. Selain itu, sublevel dari mikrosistem lain yang juga memiliki pengaruh yang besar adalah teman.

Burhmester (dalam Papalia dan Feldman, 2008) menyatakan bahwa teman sebaya dapat menjadi sumber afeksi, simpati, pemahaman, panduan moral, tempat bereksperimen, dan setting untuk mendapatkan otonomi.

Penanaman moral yang tidak sesuai dari lingkungan teman sebaya tentu menghasilkan tindakan yang tidak menguntungkan pula.

BACA JUGA:Fakta Unik Desa Adat Beleq Gumantar Lombok Utara!

Individu yang berinteraksi secara intens dengan lingkungan pertemanan yang meyakini konsep “melukai orang” seiring berjalannya waktu akan memiliki konsep tersebut dalam dirinya.

Di samping itu, pada sistem yang lebih tinggi, yaitu ekosistem, klitih juga dapat timbul akibat adanya pembiasaan.

Ekosistem berada di level lebih besar dari mikrosistem di mana individu tidak terlibat secara langsung, seperti keluarga besar hingga kenalan dari saudara, teman, serta lingkungan tempat kerja orang tua.

Pada sistem ini, konsep-konsep diri yang telah dimiliki individu dalam sistem sebelumnya dapat diperkuat jika konsep tersebut sejalan.

BACA JUGA:Mengulik Sejarah Rumah Adat Sulah Nyanda: Simbol Keharmonisan Budaya Suku Bolango!

Seperti dalam halnya klitih, ketika seseorang memegang prinsip untuk membenarkan tindak “melukai orang” yang ternyata juga didukung oleh ekosistem, tindakan tersebut akan semakin dimunculkan.   

Selain teori psikososial Erikson dan teori ekologikal Bronfenbrenner, klitih sebagai salah satu fenomena sosial dapat pula dijelaskan dengan menggunakan teori psikologi sosial, di antaranya teori agresi.

Agresi adalah suatu perilaku yang dilakukan untuk menyakiti, mengancam, atau membahayakan individu-individu atau objek-objek yang menjadi sasaran perilaku tersebut baik (secara fisik atau verbal) dan langsung atau tidak langsung (Buss, A. H., & Perry, M., 1992). 

BACA JUGA:Asal Usul Dan Sejarah Penyebaran Islam di Masjid Kuno Bayan Lombok Utara

Klitih 

Kategori :