Kelompok pergaulan yang diikuti remaja berpengaruh terhadap perubahan perilaku remaja.
Remaja melakukan konformitas, yaitu perubahan perilaku sebagai upaya untuk menyesuaikan diri dengan kelompok yang diikutinya (Santrock, 2018).
Pelaku klitih yang notabene remaja juga melakukan hal yang sama, mereka membentuk kelompok dan menekankan konformitas pada kelompok yang diikutinya.
BACA JUGA:5 Daftar Sungai Terpanjang di Indonesia
Maka tak heran, apabila para remaja yang berada dalam kelompok pelaku klitih sama-sama memiliki perilaku agresif.
Membahas lebih dalam mengenai konformitas pada kelompok klitih, pada umumnya, konformitas yang dilakukan terkait dengan provokasi.
Dengan melakukan provokasi, anggota kelompok klitih akan dihasut untuk melakukan suatu tindakan yang dianggap menjadi tujuan bersama dari kelompok tersebut.
Dengan demikian, tidak heran mengapa fenomena klitih seakan tidak pernah berhenti dan selalu bermunculan karena proses provokasi yang dilakukan dalam kelompok terus menyebar dan memancing banyak anggota untuk semakin berani melakukan aksi klitih.
BACA JUGA:Sejarah Suku Sumba: Warisan Leluhur dari Pulau Nusa Tenggara Timur!
Selain itu, dalam kelompok klitih juga terjadi proses social learning, yaitu individu akan belajar baik secara langsung maupun tidak langsung mengenai berbagai cara menyakiti orang lain, siapa yang ditargetkan menjadi korban dari agresi, aksi yang pantas digunakan saat melakukan agresi, dan dalam konteks apa agresi dapat dilakukan (Bandura, 1973).
Proses tersebut semakin mempercepat penyebaran perilaku klitih, terlebih dengan masifnya media online di mana konten kekerasan semakin bebas diakses oleh remaja.
Kesimpulan
Fenomena klitih sebagai sebuah istilah yang sudah mengalami pergeseran makna seolah akan terus mengalami pergeseran makna yang negatif apabila kasus klitih masih terus terjadi.
Keresahan yang terjadi di masyarakat juga masih akan terus terjadi apabila fenomena ini masih muncul di masa mendatang.
BACA JUGA:Mengenal Sejarah Suku Nuaulu: Penjaga Kearifan Lokal dari Pulau Seram!
Teori Identity vs Confusion menjelaskan bahwa segala bentuk aktivitas yang mereka lakukan akan sangat berpengaruh terhadap proses pencarian identitas anak dan remaja, termasuk para pelaku klitih ini.