Viral Klitih! Ini Sejarah tentang klitih

Sabtu 14-06-2025,05:06 WIB
Reporter : Almi
Editor : Almi

dikategorikan sebagai perilaku agresi karena termasuk perilaku menyakiti orang lain dengan menggunakan senjata tajam yang bertujuan ingin membuktikan eksistensi dan kekuatan fisik dari seseorang. 

Fenomena klitih memang sedikit berbeda dengan fenomena begal. Jika pelaku begal memang bertujuan untuk merampas barang-barang korbannya, pelaku klitih hanya ingin menunjukkan bahwa dia bisa “melukai orang” dan hal tersebut diibaratkan sebagai sebuah “pencapaian” bagi para pelaku.

Mengapa bisa demikian? Karena pelaku klitih didominasi atau bahkan bisa dikatakan seluruhnya dilakukan oleh remaja.

Seperti yang kita tahu, masa remaja adalah masa perkembangan di mana rentan terjadi konflik antara ideal-self dan diri dalam realitasnya.

BACA JUGA:Mengulik Sejarah Rumah Adat Nuwou Sesat: Simbol Musyawarah dan Kearifan Lokal Masyarakat Lampung!

Remaja adalah masa yang penuh dengan tanda-tanya, keraguan, dan pertimbangan. 

Selain itu, pada saat remaja, hormon pubertas menyebabkan kondisi emosional menjadi lebih tidak stabil sehingga sering kali mudah merasa marah dan tidak dalam kondisi mood yang baik.

Kondisi tersebut lantas menjadi pemicu mengapa remaja rentan mengalami frustrasi (Santrock, 2018).

Dalam frustration-aggression hypothesis, frustrasi dikatakan sebagai penyebab terkuat atau bahkan satu-satunya penyebab agresi (Dollard & Miller dalam Breuer, 2017).

BACA JUGA:Deretan Air Terjun Lombok Utara, bakalan bikin Kamu Ga Mau Pulang!

Frustrasi pada remaja dapat terjadi karena konflik tentang ideal-self yang mereka miliki berujung pada kebingungan akan identitas mereka sehingga mereka melukai orang lain karena hal tersebut (menurut mereka) merupakan salah satu cara untuk menunjukkan bahwa mereka memiliki identitas. 

Akan tetapi, tampaknya masih ada satu hal yang mengganjal. Mengapa kebingungan akan identitas malah berujung terhadap tindakan melukai orang lain?

Jawabannya karena terdapat faktor eksternal yang terdiri dari pengaruh lingkungan sosial dan budaya.

Mungkin hal ini terdengar sepele, namun tidak dapat dimungkiri bahwa lingkungan pergaulan turut memengaruhi perkembangan identitas remaja.

BACA JUGA:Mengulik Sejarah Asal Suku Tamiang: Jejak Kerajaan Tua di Ujung Timur Aceh!

Remaja cenderung menghabiskan waktunya dengan teman sebaya dan membentuk kelompok-kelompok agar dapat memahami satu sama lain (Santrock, 2018).

Kategori :