Oleh karena itu, dibutuhkan wadah untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki ke dalam kegiatan-kegiatan seperti ekstrakurikuler sehingga mereka dapat memiliki identitas positif.
Selain itu, orang tua, keluarga, dan teman sebaya juga memiliki peranan yang sangat penting dalam proses pertumbuhan anak dan remaja sebagai lingkungan di level mikrosistem.
Mereka dapat berperan sebagai panduan moral bagi para remaja pelaku klitih dalam bermasyarakat sehingga perilaku yang tidak diharapkan dapat diminimalisasi.
BACA JUGA:Mengulik Sejarah Asal Suku Tamiang: Jejak Kerajaan Tua di Ujung Timur Aceh!
Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dan stakeholder terkait, namun fenomena klitih masih terus saja terjadi.
Lantas apa yang harus dilakukan?
Beberapa upaya berikut dapat dilakukan sebagai langkah preventif:
Mengembangkan program ekstrakurikuler di sekolah, melakukan razia senjata berkala di sekolah, memberikan sosialisasi tentang bahaya fenomena klitih, serta yang paling penting dan mendasar adalah mengajarkan nilai-nilai dan norma yang benar di dalam lingkungan keluarga maupun sekolah.
BACA JUGA:5 Pantai Di Lombok utara Yang memukau, Nomor 1 Terkenal hingga Manca Negara!
Pendidikan karakter sejak dini dari lingkungan sosial terdasar, yaitu keluarga dan sekolah merupakan salah satu langkah preventif yang bisa dilakukan untuk menghindarkan anak dari pergaulan yang buruk dan perilaku yang menyimpang seperti pada fenomena klitih.
Anak diajarkan budaya, norma, serta nilai-nilai yang baik dan benar agar dapat bijak memilih perilaku yang perlu dan tidak perlu diikuti.