Terungkap Cerita Kelam Tapol Orde Baru yang Sengaja Dikubur Sejarah
--
PAGARALAMPOS.COM- Puluhan tahun telah berlalu sejak rezim Orde Baru tumbang, namun jejak luka sejarah itu masih membekas, membentuk lorong-lorong sunyi dalam perjalanan bangsa ini.
Salah satu lorong yang jarang disorot adalah kisah para tapol tahanan politik yang menjadi korban kekuasaan mutlak.
Mereka adalah saksi bisu pergolakan ideologi, korban dari ketakutan nasional, dan juga korban dari ambisi kekuasaan.
Pada masa itu, label tapol lebih dari sekadar indentitas ia adalah cap sosial yang melekat seumur hidup.
BACA JUGA:Sejarah Air Terjun Sekumpul: Pesona Alam dan Legenda di Bumi Bali Utara!
Banyak yang ditangkap tanpa proses hukum yang jelas.
Mereka dianggap berbahaya hanya karena dugaan simpati terhadap gerakan yang dicap sebagai musuh negara.
Tanpa pembelaan, tanpa pengadilan yang adil, sebagian besar dari mereka harus menghabiskan masa muda bahkan separuh hidupnya di balik jeruji atau di pengasingan, di balik narasi besar pembangunan dan stabilitas yang dikumandangkan penguasa, tersembunyi kisah-kisah perih.
Ada seorang guru yang diciduk saat mengajar karena dituduh menyebarkan "ajaran berbahaya , Ada seorang petani yang ditangkap hanya karena pernah menghadiri rapat desa yang belakangan disebut-sebut terkait gerakan terlarang.
BACA JUGA:Sejarah Museum Kereta Api Graha Parahyangan: Menyusuri Jejak Perjalanan Kereta Api di Indonesia!
Ada pula seorang ibu rumah tangga yang dipisahkan dari anak-anaknya, hanya karena ia istri dari seorang pria yang menjadi buron politik.
Cerita-cerita ini bukan hanya tentang kekerasan fisik.
Lebih menyakitkan adalah kekerasan batin stigma yang melekat bahkan setelah mereka bebas.
Tapol yang kembali ke masyarakat kerap menghadapi diskriminasi.
BACA JUGA:Pangeran Diponegoro, 5 Tahun Perlawanan yang Mengubah Sejarah Nusantara
Mereka kesulitan mendapat pekerjaan, ditolak di lingkungan sekitar, dan harus hidup dalam bayang-bayang kecurigaan tanpa henti.
Yang ironis, dalam banyak kasus, mereka sendiri tidak sepenuhnya mengerti mengapa mereka menjadi sasaran.
Banyak yang tidak pernah tahu apa sebenarnya kesalahan mereka.
Penguasa masa itu menciptakan suasana di mana rasa takut lebih efektif daripada penjelasan, dan kecurigaan menjadi alat kontrol yang ampuh.
BACA JUGA:Menyelami Kisah Sejarah Museum Bio Farma: Jejak Perjalanan Industri Kesehatan di Indonesia!
Kini, generasi baru mungkin mengenal Orde Baru dari buku teks atau sekadar perdebatan politik.
Namun, kisah tapol sering kali tenggelam, seolah hanya menjadi catatan kaki sejarah.
Padahal, memahami cerita-cerita ini penting untuk mengerti betapa mahalnya harga sebuah kekuasaan yang otoriter, dan mengapa kebebasan berpikir serta keadilan hukum harus terus diperjuangkan.
Sebagian tapol yang masih hidup memilih diam.
BACA JUGA:Sejarah Museum Kereta Api Graha Parahyangan: Menyusuri Jejak Perjalanan Kereta Api di Indonesia!
Mungkin karena trauma, mungkin karena kelelahan, atau sekadar karena merasa kisah mereka tidak lagi penting di tengah riuhnya zaman baru.
Tapi sesekali, dari sela-sela diskusi kecil, memoar sederhana, atau potongan berita di media alternatif, suara mereka masih terdengar samar.
Suara yang mengingatkan bahwa demokrasi bukan hadiah gratis, melainkan sesuatu yang dibayar mahal, kadang dengan air mata, kadang dengan darah, dan sering dengan kesunyian yang panjang.
Adalah tugas kita hari ini, bukan untuk menghidupkan kembali luka, tetapi untuk mendengarkan dan memahami.
BACA JUGA:Tragedi Rawagede, Luka yang Menganga dalam Sejarah
Agar sejarah tidak lagi berulang dalam bentuk lain, dalam wajah baru. Agar bangsa ini benar-benar belajar dari masa lalunya, dan menjadikan luka itu sebagai pelajaran, bukan sekadar catatan yang dikubur dalam-dalam.
Tapol Orde Baru mungkin cerita yang terpendam, tetapi ia tetap hidup, berbisik dari sudut-sudut terlupakan sejarah, menanti untuk didengarkan dan dimengerti.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
