Pemkot PGA

Sejarah Lupa, Pengasingan Bung Karno: Konspirasi Senyap yang Nyaris Terkubur

Sejarah Lupa, Pengasingan Bung Karno: Konspirasi Senyap yang Nyaris Terkubur

--

PAGARALAMPOS.COM - Dalam lembaran sejarah Indonesia, nama Ir. Soekarno tercatat dengan tinta emas sebagai proklamator dan presiden pertama. 

Namun, di balik gemilangnya kisah perjuangan itu, tersimpan episode kelam yang sering terlupakan masa-masa pengasingannya.

Lupa bukan karena tidak penting, melainkan karena sejarah besar sering kali menutupi luka-luka kecil yang membentuknya.

Pengasingan Bung Karno bermula dari ketegangan antara kolonial Belanda dan semangat kemerdekaan yang menggelegak di dada rakyat. 

BACA JUGA:Sejarah Air Terjun Dua Suguhan Menawan: Kisah Alam, Budaya, dan Perjuangan yang Terlupakan!

Soekarno, dengan orasinya yang berapi-api dan gagasan nasionalisme nya yang revolusioner, dianggap ancaman besar oleh Pemerintah Hindia Belanda. 

Tahun 1929, setelah mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) dan menyebarkan semangat anti-penjajahan, Bung Karno mulai menarik perhatian aparat kolonial.

Pada Desember 1929, Soekarno ditangkap dan dipenjara di Bandung. 

Meski dalam pengadilan yang dikenal sebagai Indonesia Menggugat ia membela diri dengan brilian, kekuasaan kolonial tetap memutuskan untuk membungkamnya.

BACA JUGA:Masa Penjajahan VOC yang Terlupa,Jejak Luka dalam Senyap Sejarah

Namun, penjara bukan satu-satunya alat pengasingan menjadi senjata ampuh untuk menjauhkan Soekarno dari rakyat.

Mencicipi Sunyinya PengasinganTahun 1933, tanpa proses pengadilan, Soekarno diasingkan ke Ende, sebuah kota kecil di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. 

Jauh dari pusat pergerakan politik di Jawa, Ende adalah penjara tanpa dinding bagi Bung Karno. 

Di sana, ia hidup dalam pengawasan ketat, jauh dari keramaian, sahabat, dan dunia politik yang dicintainya.

BACA JUGA:Jejak Sejarah: Misteri dan Pengorbanan 7 Pahlawan Nasional yang Hilang

Namun, Bung Karno bukan tipe yang mudah menyerah pada kesunyian. 

Ia justru memanfaatkan waktu di Ende untuk memperdalam pemikiran tentang bangsa dan negara.

Ia mendirikan kelompok sandiwara rakyat, menulis drama berjudul Rendorua Ena Sao, dan banyak merenungkan dasar-dasar ideologi yang kelak menjadi Pancasila.

Setelah empat tahun di Ende, Belanda memutuskan untuk memindahkannya ke Bengkulu pada tahun 1938. 

BACA JUGA:Sejarah Museum Perjuangan Rakyat Jambi: Mengenang Perjuangan dan Semangat Kemerdekaan!

Bengkulu, meskipun lebih berkembang dibanding Ende, tetap menjadi tempat pengasingan. 

Di sana pula takdir mempertemukannya dengan Fatmawati, gadis muda yang kelak menjadi istri dan penjahit bendera pusaka Merah Putih.

Pengasingan Bung Karno seolah-olah menjadi babak yang terlupakan dalam narasi besar perjuangan Indonesia. 

Padahal, di Ende dan Bengkulu, Soekarno tidak hanya bertahan, tetapi juga menempa dirinya menjadi pemimpin yang lebih matang. 

BACA JUGA:Sejarah Museum Konperensi Asia Afrika: Saksi Bisu Perjuangan Asia-Afrika Menuju Kemerdekaan dan Solidaritas!

Pengasingan itu mengajarkan Soekarno tentang kesabaran, tentang pentingnya membangun kekuatan ideologi yang kokoh, bahkan ketika berada dalam keterbatasan.

Lebih dari itu, masa pengasingan menunjukkan betapa kekuatan pikiran bisa menjadi senjata ampuh, lebih tajam dari peluru. 

Soekarno menyadari bahwa membangkitkan kesadaran rakyat harus melalui gagasan, bukan sekadar perlawanan bersenjata. 

Itulah sebabnya, kelak, ketika memimpin Indonesia, ia begitu menekankan pentingnya persatuan dan kesadaran nasional.

BACA JUGA:Sejarah Suku Yali: Jejak Peradaban Tersembunyi di Pegunungan Papua!

Hari ini, situs rumah pengasingan Bung Karno di Ende dan Bengkulu menjadi saksi bisu perjalanan panjang menuju kemerdekaan. 

Di sana, kita bisa merasakan getaran sunyi yang dulu menemani Bung Karno bermimpi tentang Indonesia merdeka.

Sayangnya, dalam pembelajaran sejarah di sekolah-sekolah, pengasingan ini sering kali hanya disebut sepintas, tanpa menggali kedalaman maknanya. 

Sejarah lupa bahwa justru dalam keterasingan itu, seorang pemimpin besar sedang ditempa.

BACA JUGA:Sejarah Air Terjun Aling-Aling: Keindahan Tersembunyi di Bali Utara!

Melalui kisah pengasingan Bung Karno, kita diingatkan bahwa perjuangan tidak selalu tentang gemuruh pertempuran. Kadang, perjuangan sejati adalah tentang bertahan dalam sepi, tetap percaya pada mimpi, dan membangun kekuatan dalam diam. Dan dari sepi itulah, suara kemerdekaan akhirnya menggema.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait