Hingga Akhir Abad ke-16, Kerajaan Majapahit Tak Bisa Kalahkan Kerajaan Ini!

Hingga Akhir Abad ke-16, Kerajaan Majapahit Tak Bisa Kalahkan Kerajaan Ini!

Hingga Akhir Abad ke-16, Kerajaan Majapahit Tak Bisa Kalahkan Kerajaan Ini!--

PAGARALAMPOS.COM – Hingga Akhir Abad ke-16, Kerajaan Majapahit Tak Bisa Kalahkan Kerajaan Ini!

Menurut cerita, Kerajaan Majapahit memang sangat kuat dan sakti, dengan angkatan laut dan pasukan yang kuat.

Namun, ada sebuah kerajaan kecil di pulau Jawa yang baru bisa ditaklukkan setelah jatuhnya Majapahit.

Kerajaan ini tidak sekuat dan seterkenal kerajaan Majapahit yang menguasai lautan dan daratan Nusantara.

BACA JUGA:Mengejutkan! Ternyata Inilah Nama 4 Makam Keramat Misterius di Gunung Salak! Salahsatunya Nyi Roro Kidul!

Namun kerajaan ini dapat bertahan dari serangan pasukan Majapahit dan tidak dapat ditaklukkan oleh kerajaan besar ini. 
 
Ini hasil rangkuman pagaralampos.com, kerajaan apa yang sampai Majapahit runtuh tidak juga bisa ditaklukan?

ikuti sampai habis cerita Mimin, apakah Kerajaan Sunda atau Pajajaran lebih baik baca habis berita ini!

Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan yang pernah berdiri pada abad ke-13 hingga abad ke-16. Namun, ada juga yang menuliskan berdiri pada abad ke-14 hingga abad ke-15. 

BACA JUGA:Mengejutkan! Ternyata Inilah Nama 4 Makam Keramat Misterius di Gunung Salak! Salahsatunya Nyi Roro Kidul!

Kerajaan Majapahit terletak dan berpusat di Jawa Timur, dan dianggap sebagai salah satu kerajaan terbesar di wilayah Asia Tenggara pada masa lalu.

Dalam catatan sejarah, Majapahit hampir menguasi seluruh daerah Nusantara pada masa itu.

Pendiri Majapahit, Raden Wijaya pada tahun 1293, yang merupakan menantu dari Kertanegara, raja terakhir Singasari.

Kerajaan Majapahit tidak terlepas dari Kerajaan Singasari. Raden Wijaya merupakan menantu Kertanegara, raja Kerajaan Singasari.

BACA JUGA:Awal Kehancuran Empire Majapahit Diguncang Kesultanan Demak, Siapa Raden Fatah, Benarkah Dibantu Wali Songo

Pada tahun 1292 M, terjadi pemberontakan di Singasari yang dilakukan oleh Jayakatwang yang menyebabkan runtuhnya Singasari.

Pada waktu itu Raden Wijaya melarikan diri bersama Arya Wiraraja.

Raden Wijaya kemudian mendiami sebuah hutan di Trowulan yang merupakan tanah sima pada masa Kerajaan Singasari.

Wilayah ini kemudian dinamakan Majapahit.

BACA JUGA:Kekuasaan Majapahit Memang Luas! Pulau Sumatera Juga Pernah Dikuasainya Lho! 5 Suku Ini Buktinya!

Penamaan Majapahit didasarkan pada nama buah maja yang banyak ditemukan diwilayah Trowulan serta memiliki rasa yang pahit.

Wilayah Majapahit berkembang hingga mampu menarik simpati penduduk Daha dan Tumapel.

Niat balas dendam Raden Wijaya terbantu lebih cepat setelah adanya pasuka Khubilai Khan yang tiba pada 1293.

Setelah mengalahkan Jaya Katwang, Raden Wijaya kemudian menyerang pasukan Mongol dibawah Kubulaikhan.

BACA JUGA:Majapahit Tidak Mampu Taklukan Pajajaran, Apakah Karena Prabu Siliwangi adalah Raja-Nya?

Setelah mengalahkan Mongol dan Kediri, Raden Wijaya kemudian diangkat menjadi raja pada tanggal 15 bulan Kartika tahun 1215. Setelah diangkat sebagai raja, Raden Wijaya kemudian bergelar Kertarajasa Jayawardhana.

Kerajan Majapahit membentang begitu luas, namanya disegani berbagai kerajaan di Asia.

Meski berhasil mempersatukan wilayah Nusantara, Majapahit tidak bisa menguasai Pajajaran atau Sunda yang kecil.

Kerajaan Sunda bukanlah kerajaan lemah

BACA JUGA:Presiden Tekankan Pentingnya Pengawasan Penggunaan Anggaran agar Produktif

Pusat pemerintahan atau ibu kota terakhir Pajajaran sebelum hancur oleh pasukan Islam dari Demak dan Banten berada di sebuah kota bernama Dayo.

Para ahli meyakini, Dayo yang dimaksud adalah kawasan yang meliputi Kabupaten Bogor dan Kota Bogor di Jawa Barat saat ini.

Raja memiliki istana yang sangat megah, dibangun dengan 330 pilar kayu setinggi lima depa, dengan ukiran indah di atasnya.

Kemudian pada 1856, Administrator orientalis dan kolonial John Crawfurd (1783-1868), berhasil memecahkan soal misteri lokasi Kota Dayo.

BACA JUGA:Presiden Segera Umumkan Transisi Pandemi ke Endemi pada Akhir Juni 2023

Lokasi Keraton Pakuan terletak pada lahan lemah duwur.

Yakni di atas bukit yang diapit oleh tiga batang sungai berlereng curam, yakni Cisadane, Ciliwung (Cihaliwung) dan Cipaku (anak Cisadane).

Kemudian, di tengahnya mengalir Sungai Cipakancilan yang ke bagian hulu sungainya bernama Ciawi.

Pakuan terlindung oleh lereng terjal pada ketiga sisinya, namun di sisi tenggara kota berbatasan dengan tanah datar dan terdapat benteng (kuta) yang paling besar, pada bagian luar benteng terdapat parit yang merupakan bentuk negatif dari benteng tersebut.

BACA JUGA:Resmikan RS Tzu Chi, Presiden Imbau Masyarakat Berobat di Dalam NegeriG

Tanah galian parit itulah yang diperkirakan untuk dijadikan bahan pembangunan benteng.

Ibu Kota Pajajaran sempat berpindah-pindah dari Galuh, Pakuan, Saunggalah, Pakuan, Kawali, dan Pakuan.

Ibu kota Pajaran dibagi ke dalam dua bagian, yaitu Kota bagian Dalam dan Kota bagian Luar.

Kota Dalam dan Kota Luar dibatasi benteng alam berupa bukit memanjang di sebelah timur.
Struktur Ibu Kota Pajajaran diperkuat oleh sungai alam, parit kecil yang melewati bagian barat keraton, dan benteng buatan di selatan.

BACA JUGA:Siapa Patih Kebo Iwa Yang Dijebak Oleh Majapahit, Simak Selengkapnya!

Benteng yang berlapis-lapis ini dibuat untuk menangkis serangan pasukan Islam dari luar (Demak, Banten, dan Cirebon).

Wilayah Sunda, khususnya Kerajaan Sunda merupakan wilayah yang unik bagi Majapahit.

Disebutkan bahwa Mahapatih Gajah Mada sampai enggan untuk menyerang secara militer.

Padahal wilayah Sunda merupakan bagian yang dibidik oleh Gajah Mada supaya sumpahnya untuk menyatukan Nusantara terwujud.*

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: