Pemkot PGA

Saat Bung Karno Mengguncang Dunia, Konferensi Asia Afrika yang Mengubah Sejarah

Saat Bung Karno Mengguncang Dunia, Konferensi Asia Afrika yang Mengubah Sejarah

--

PAGARALAMPOS.COM - Pada tahun 1955, dunia menyaksikan sebuah peristiwa bersejarah yang menggugah semangat kebebasan bangsa-bangsa terjajah.

Di tengah hiruk-pikuk politik global yang dikuasai oleh Perang Dingin antara blok Barat dan Timur, muncul secercah harapan dari sebuah negara muda Indonesia. 

Presiden Soekarno, juga dikenal sebagai Bung Karno, adalah figur yang bertanggung jawab atas kebangkitan suara di Asia dan Afrika. Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung adalah sesuatu yang lebih dari sekedar pertemuan.

BACA JUGA:Tragedi Rawagede, Luka yang Menganga dalam Sejarah

Ia adalah titik balik, sebuah momentum di mana bangsa-bangsa yang selama ini dianggap pinggiran dalam percaturan dunia mulai menuntut pengakuan atas kedaulatannya. 

Bung Karno, dengan karisma dan orasinya yang membahana, menjadi motor penggerak konferensi tersebut.

Sejak awal, Bung Karno memahami betul bahwa kolonialisme, dalam bentuk apapun, adalah musuh bersama.

Ia percaya bahwa persatuan antara negara-negara di Asia dan Afrika adalah kunci untuk menghancurkan sisa-sisa imperialisme yang masih bercokol. 

BACA JUGA:Masa Penjajahan VOC yang Terlupa,Jejak Luka dalam Senyap Sejarah

Presiden Soekarno, juga dikenal sebagai Bung Karno, adalah figur yang bertanggung jawab atas kebangkitan suara di Asia dan Afrika.

Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung bukan hanya pertemuan.

KAA di Bandung dihadiri oleh 29 negara, masing-masing membawa luka, harapan, dan cita-cita akan dunia baru yang lebih adil. 

Di tengah perbedaan bahasa, budaya, agama, dan sistem politik, Bung Karno tampil sebagai jembatan yang menghubungkan semua itu. 

BACA JUGA:Rahasia Tersembunyi di Babad Tanah Jawa, Menyelami Hikayat Nusantara yang Menggetarkan

Ia mengingatkan bahwa tantangan utama mereka bukan perbedaan internal, melainkan kesamaan nasib sebagai korban kolonialisme dan ketidakadilan global.

Lebih dari sekedar retorika, Bung Karno menawarkan Dasasila Bandung—prinsip-prinsip dasar yang kemudian menjadi tradisi.

Prinsip-prinsip ini menyerukan penghormatan terhadap kedaulatan, non-intervensi, persamaan ras, serta penyelesaian perselisihan dengan cara damai. 

Ini menjadi fondasi penting bagi lahirnya gerakan Non-Blok yang kemudian memainkan peran strategis di panggung internasional.

BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Gunung Bukit Raya: Permata Tersembunyi di Jantung Kalimantan!

Kehadiran Bung Karno di KAA membuktikan bahwa Indonesia, walau masih muda, memiliki visi besar untuk dunia. 

Ia tidak hanya berbicara untuk bangsa sendiri, tetapi juga untuk semua bangsa yang mendambakan kemerdekaan sejati. 

Dalam setiap langkahnya di Bandung, tampak bahwa Bung Karno membawa beban sekaligus harapan dari jutaan jiwa yang menginginkan perubahan.

Konferensi Asia Afrika bukan hanya sukses secara diplomatik, tetapi juga secara simbolik. 

BACA JUGA:Sejarah Gunung Lompobattang: Jejak Mistis dan Peradaban Kuno di Sulawesi Selatan!

Dunia Barat terkejut melihat kekuatan baru yang lahir dari negara-negara yang sebelumnya dipandang sebelah mata. 

Sementara itu, bagi negara-negara Asia dan Afrika, konferensi ini menjadi cambuk semangat untuk mempercepat perjuangan mereka dalam meraih kemerdekaan.

Hari ini, hampir tujuh dekade kemudian, semangat KAA tetap relevan. 

Ketidaksetaraan global, penjajahan dalam bentuk baru, dan tantangan terhadap kedaulatan bangsa-bangsa kecil masih terus terjadi. 

BACA JUGA:Menguak Sejarah G30S, Kudeta yang Mengubah Arah Indonesia

Namun, warisan Bung Karno tetap menjadi inspirasi. Ia mengajarkan bahwa keberanian untuk bermimpi besar, memperjuangkan keadilan, dan membangun persatuan lintas bangsa adalah kekuatan yang mampu mengubah dunia.

Dengan demikian, Bung Karno tidak hanya mencatatkan namanya dalam sejarah Indonesia, tetapi juga dalam sejarah dunia. Ia menunjukkan kepada dunia melalui Konferensi Asia Afrika bahwa dari Bandung, sebuah gelombang perubahan dapat dimulai, yang didorong oleh kekuatan solidaritas, martabat, dan harapan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait