Viral Klitih! Ini Sejarah tentang klitih
Viral Klitih--
BACA JUGA:Mengulik Sejarah Rumah Adat Sulah Nyanda: Simbol Keharmonisan Budaya Suku Bolango!
Seperti dalam halnya klitih, ketika seseorang memegang prinsip untuk membenarkan tindak “melukai orang” yang ternyata juga didukung oleh ekosistem, tindakan tersebut akan semakin dimunculkan.
Selain teori psikososial Erikson dan teori ekologikal Bronfenbrenner, klitih sebagai salah satu fenomena sosial dapat pula dijelaskan dengan menggunakan teori psikologi sosial, di antaranya teori agresi.
Agresi adalah suatu perilaku yang dilakukan untuk menyakiti, mengancam, atau membahayakan individu-individu atau objek-objek yang menjadi sasaran perilaku tersebut baik (secara fisik atau verbal) dan langsung atau tidak langsung (Buss, A. H., & Perry, M., 1992).
BACA JUGA:Asal Usul Dan Sejarah Penyebaran Islam di Masjid Kuno Bayan Lombok Utara
Klitih
dikategorikan sebagai perilaku agresi karena termasuk perilaku menyakiti orang lain dengan menggunakan senjata tajam yang bertujuan ingin membuktikan eksistensi dan kekuatan fisik dari seseorang.
Fenomena klitih memang sedikit berbeda dengan fenomena begal. Jika pelaku begal memang bertujuan untuk merampas barang-barang korbannya, pelaku klitih hanya ingin menunjukkan bahwa dia bisa “melukai orang” dan hal tersebut diibaratkan sebagai sebuah “pencapaian” bagi para pelaku.
Mengapa bisa demikian? Karena pelaku klitih didominasi atau bahkan bisa dikatakan seluruhnya dilakukan oleh remaja.
Seperti yang kita tahu, masa remaja adalah masa perkembangan di mana rentan terjadi konflik antara ideal-self dan diri dalam realitasnya.
BACA JUGA:Mengulik Sejarah Rumah Adat Nuwou Sesat: Simbol Musyawarah dan Kearifan Lokal Masyarakat Lampung!
Remaja adalah masa yang penuh dengan tanda-tanya, keraguan, dan pertimbangan.
Selain itu, pada saat remaja, hormon pubertas menyebabkan kondisi emosional menjadi lebih tidak stabil sehingga sering kali mudah merasa marah dan tidak dalam kondisi mood yang baik.
Kondisi tersebut lantas menjadi pemicu mengapa remaja rentan mengalami frustrasi (Santrock, 2018).
Dalam frustration-aggression hypothesis, frustrasi dikatakan sebagai penyebab terkuat atau bahkan satu-satunya penyebab agresi (Dollard & Miller dalam Breuer, 2017).
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
