Dari Penjara ke Istana Kisah Nelson Mandela yang Mengguncang Dunia
Dari Penjara ke Istana Kisah Nelson Mandela yang Mengguncang Dunia--
PAGARALAMPOS.COM - Bayangkan hidup di negeri sendiri tapi dianggap tamu.
Bayangkan punya tanah leluhur, tapi dilarang masuk ke sekolah, rumah sakit, atau taman yang hanya diperuntukkan “kulit putih”.
Itulah kenyataan kelam di Afrika Selatan selama puluhan tahun.
Nama sistemnya, Apartheid.
BACA JUGA:Sosialisasi Budaya Baca, Ciptakan Generasi Cerdas
Artinya pemisahan, tapi sejatinya, itu adalah penindasan dengan legalitas.
Namun dari tengah gelap itulah muncul sosok yang mengubah sejarah dunia, Nelson Mandela.
Seorang pria bersuara tenang, langkah tegap, dan hati sekeras batu untuk keadilan.
Lahir pada 18 Juli 1918 di desa kecil bernama Mvezo, Mandela sebenarnya datang dari keluarga kepala suku.
BACA JUGA:Perang Irak 2003 Saat Dunia Menyaksikan Sebuah Negara Terpecah
Ia bisa saja hidup nyaman, mengikuti tradisi, dan menjauhi konflik.
Tapi jalan hidupnya berubah saat ia melihat kenyataan pahit bangsanya, rakyat kulit hitam tidak punya hak yang setara, tidak dianggap manusia seutuhnya.
Ia memilih belajar hukum senjata yang ia gunakan bukan untuk cari uang, tapi untuk melawan ketidakadilan.
Di awal kariernya, ia membuka firma hukum bersama temannya, Oliver Tambo, khusus untuk membela orang-orang kulit hitam yang tertindas oleh sistem hukum rasis.
Mandela lalu bergabung dengan African National Congress (ANC) partai politik yang sejak 1912 berjuang melawan apartheid.
Tapi perjuangan damai terbentur tembok kekerasan.
Pemerintah kulit putih menanggapi unjuk rasa dengan peluru.
Mandela sadar, tanpa tekanan, sistem ini tak akan roboh.
BACA JUGA:Menteri ATR/BPN Serahkan 811 Sertipikat di Parangtritis: Warga Diimbau Gunakan Secara Produktif
Maka ia ikut mendirikan Umkhonto we Sizwe, sayap militer ANC.
Ia tidak ingin menebar teror, tapi ingin membuktikan, bangsa kulit hitam tak akan tunduk selamanya.
Itulah yang membuatnya ditangkap pada 1962 dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.
Ia menghabiskan 27 tahun hidupnya di balik jeruji, kebanyakan di Pulau Robben tempat yang dingin, lembap, dan penuh isolasi.
BACA JUGA:Perang Bosnia Saat Tetangga Jadi Musuh dan Dunia Hanya Menonton
Di tempat seperti itulah biasanya orang patah.
Tapi Mandela justru tumbuh, Ia belajar bahasa lawannya, Afrikaans.
Ia pelajari psikologi penjaganya.
Dan yang paling luar biasa, ia memaafkan bahkan sebelum dibebaskan.
BACA JUGA:Google Pixel 11, Ini Prediksi Spesifikasi dan Fitur Canggih yang Dibawanya!
Ia tahu, jika kelak apartheid runtuh, bangsa Afrika Selatan harus bersatu bukan balas dendam.
Maka ia tidak hanya menyiapkan dirinya sebagai simbol, tapi sebagai pemimpin masa depan.
Saat dunia luar mulai menekan pemerintah Afrika Selatan, nama Mandela sudah menjadi legenda internasional.
Pada 11 Februari 1990, pintu penjara Robben Island dibuka.
BACA JUGA:Cara Merekam Layar di HP Vivo, Praktis dan Cepat Tanpa Aplikasi Tambahan
Mandela keluar dengan langkah pelan, senyum tipis, dan hati besar.
Dunia menyambutnya seperti pahlawan.
Tapi ia tak euforia, tugasnya belum selesai.
Ia langsung berunding dengan pemerintah kulit putih.
BACA JUGA:Google Gemini di iPhone Makin Gampang Diakses, Ini Cara Pasangnya di Lock Screen
Bukan dengan ancaman, tapi dengan visi masa depan.
Pada 1994, lewat pemilu multiras pertama dalam sejarah Afrika Selatan, Mandela terpilih sebagai presiden kulit hitam pertama.
Ia memimpin bukan dengan kebencian, tapi dengan rekonsiliasi.
Bahkan ia merangkul lawan-lawan politiknya dan membentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, agar rakyat bisa menyembuhkan luka bersama, tanpa menghapus masa lalu.
BACA JUGA:Cara Ubah Aplikasi Default iPhone, Gampang dan Nggak Perlu Jailbreak!
Dengan Mandela sebagai presiden, apartheid resmi berakhir.
Tapi tantangan belum selesai, ekonomi timpang, pendidikan buruk, dan luka sosial membekas.
Tapi setidaknya, rakyat Afrika Selatan sudah mendapatkan satu hal paling berharga, martabat sebagai manusia yang setara.
Mandela hanya menjabat satu periode, tapi jejaknya tertinggal selamanya.
BACA JUGA:Perang Teluk Ketika Ambisi Saddam dan Minyak Menyalakan Api Global
Ia bukan hanya milik Afrika Selatan, ia milik dunia.
Sebab ia membuktikan bahwa perubahan besar tidak selalu datang dari amarah, tapi dari kesabaran, strategi, dan hati yang lapang.
Mandela tidak pernah mengklaim dirinya sempurna.
Ia manusia, dengan luka dan keputusan sulit.
Tapi ia memilih berdiri di tengah, saat semua orang menarik ke kanan dan kiri.
Dan dari sanalah ia mengukir satu pelajaran penting bagi semua bangsa, kebebasan bukan hadiah, tapi hasil dari keberanian dan pengampunan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
