Perang Bosnia Saat Tetangga Jadi Musuh dan Dunia Hanya Menonton
--
PAGARALAMPOS.COM - Musim semi 1992 membawa warna yang berbeda bagi Eropa Bukan bunga yang bermekaran.
tapi darah yang mengalir di lembah dan bukit Bosnia.
Eropa baru saja mengakhiri babak panjang Perang Dingin ketika tirai besi runtuh dan tembok Berlin ambruk, dunia bersorak.
Tapi di jantung Balkan, justru luka baru menganga dan luka itu bernama Perang Bosnia.
BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Benteng Pandjoenan: Pilar Sejarah Perjuangan di Cianjur!
Bosnia dan Herzegovina, negeri kecil di Semenanjung Balkan, menjadi medan luka yang paling dalam di Eropa setelah Perang Dunia II Ketika Yugoslavia pecah, negeri itu tercerai-berai oleh nasionalisme, kepentingan etnis, dan kepongahan kekuasaan Bosnia yang plural, rumah bagi Muslim Bosnia (Bosniak), Serbia Ortodoks, dan Kroasia Katolik, seolah menjadi laboratorium berdarah dari kegagalan perdamaian pasca-Perang Dingin.
Konflik dimulai pada April 1992, ketika Bosnia mendeklarasikan kemerdekaannya dari Yugoslavia serbia Bosnia, dengan dukungan militer dari Beograd, menolak kemerdekaan itu.
Dalam hitungan hari, kota-kota dikepung, desa-desa dibakar, dan yang lebih mengerikan etnis dibersihkan.
“Pembersihan etnis” menjadi istilah yang tak hanya menghantui sejarah, tapi juga nurani umat manusia.
BACA JUGA:Sejarah Gunung Sinabung: Menyimpan Daya Tahan Alam dan Dampak Bencana!
Salah satu bab tergelap dari perang ini terjadi di kota kecil bernama Srebrenica.
Pada Juli 1995, lebih dari 8.000 pria dan anak laki-laki Muslim dibantai dalam waktu beberapa hari oleh pasukan Serbia Bosnia di bawah komando Ratko Mladić.
Ini adalah genosida terburuk di Eropa sejak Holocaustn di depan mata pasukan penjaga perdamaian PBB yang tak berkutik.
Eropa dan dunia internasional berdiri di persimpangan dilema moral dan kepentingan geopolitik.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
