Rumah Adat Bugis: Simbol Kearifan Lokal dalam Desain dan Filosofi Hidup

Rumah Adat Bugis: Simbol Kearifan Lokal dalam Desain dan Filosofi Hidup

Rumah Adat Bugis: Simbol Kearifan Lokal dalam Desain dan Filosofi Hidup-Foto: net -

Dunia Tengah – Diwakili oleh badan rumah, yang melambangkan Ale Lino, tempat kehidupan manusia berlangsung.

Dunia Bawah – Diwakili oleh rongga di bawah rumah, yang disebut Buriq Liu, tempat tinggal We Nyili Timoq, istri Batara Guru.

BACA JUGA:Legenda Ken Arok: Perebutan Kekuasaan yang Mengubah Sejarah Nusantara

BACA JUGA:Kerajaan Kediri: Jejak Kejayaan Hindu dalam Sejarah Nusantara

Pandangan ini tertuang dalam Sureq Lagaligo, naskah kuno Bugis yang menggambarkan struktur alam semesta dalam tiga lapisan vertikal.

Keunikan Timpalaja

Salah satu ciri khas rumah adat Bugis adalah penggunaan Timpalaja, elemen segitiga yang terletak di antara dua dinding yang bertemu di atap.

Dahulu, jumlah susunan timpalaja mencerminkan status sosial pemilik rumah:

Tiga hingga lima lapis menunjukkan pemilik berasal dari kalangan bangsawan.

Satu atau dua lapis menandakan pemilik dari kalangan rakyat biasa.

BACA JUGA:Ternyata, Pempek Palembang Punya Sejarah yang Tak Terduga, Loh! Temukan Alasannya!

BACA JUGA:Misteri dan Pesona Bukit Barisan: Jejak Sejarah dan Keindahan Alam yang Menakjubkan

Namun, di era modern, penggunaan timpalaja lebih fleksibel dan tidak lagi terikat oleh status sosial.

Rumah adat Bugis lebih dari sekadar tempat tinggal; ia merupakan ekspresi budaya yang mencerminkan filosofi hidup masyarakatnya.

Desainnya yang unik dan multifungsi memperlihatkan bagaimana nilai-nilai dan struktur sosial Bugis terwujud dalam arsitektur.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: