Rumah Adat Bugis: Simbol Kearifan Lokal dalam Desain dan Filosofi Hidup

Rumah Adat Bugis: Simbol Kearifan Lokal dalam Desain dan Filosofi Hidup

Rumah Adat Bugis: Simbol Kearifan Lokal dalam Desain dan Filosofi Hidup-Foto: net -

Ruang Atas

Disebut Rakkeang dalam bahasa Bugis atau Parapara dalam bahasa Makassar, ruang ini terletak di bawah atap tetapi berada di atas plafon.

Area ini biasanya digunakan untuk menyimpan bahan pangan yang perlu dikeringkan atau diawetkan, serta menjadi tempat penyimpanan benda-benda berharga atau pusaka keluarga.

Ruang Utama

Dikenal sebagai Alebbola atau Watangmpola dalam bahasa Bugis, dan Kale Balla’ dalam bahasa Makassar, ruang utama merupakan pusat kehidupan sehari-hari.

Di tempat ini, berbagai aktivitas seperti menerima tamu, berkumpul dengan keluarga, beristirahat, tidur, makan, hingga memasak dilakukan.

Bagian Bawah Rumah

Rongga di bawah rumah, disebut Awabola oleh masyarakat Bugis dan Siring oleh masyarakat Makassar, merupakan area terbuka yang digunakan untuk aktivitas santai, tempat bermain, serta penyimpanan alat pertanian dan perlindungan bagi ternak.

BACA JUGA:Sejarah Uang Logam: Perjalanan, Keunggulan, dan Kekurangannya yang Perlu Diketahui!

BACA JUGA:Menguak Rahasia Prasasti Yupa: Jejak Kerajaan Kutai dalam Sejarah Nusantara

Ruangan ini juga memanfaatkan kesejukan alami dari tanah, menjadikannya tempat yang nyaman untuk bersantai di siang hari.

Makna Filosofis Rumah Adat Bugis

Dalam budaya Bugis, struktur rumah adat tidak hanya memiliki fungsi praktis tetapi juga mencerminkan pandangan kosmologis mereka.

Rumah dianggap sebagai mikrokosmos yang merepresentasikan alam semesta dan terbagi menjadi tiga bagian:

Dunia Atas – Diwakili oleh atap rumah, yang melambangkan Bottiq Langi, tempat tinggal Batara Guru atau La Togeq Langi dalam mitologi Bugis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: