Sejarah Keturunan Majapahit, Bukan Dibali Saja, Ada di Sumsel
Warisan Sejarah di Batu: Keajaiban Desa Bejijong dan Kerajaan Majapahit--
PAGARALAMPOS.COM - Sejarah Suku Majapahit! Bukan Dibali Saja, Ada di Sumsel. Suku Bali Majapahit merupakan salah satu Suku yang mendiam wilayah pulau Bali.
Suku yang dipengaruhi oleh adat budaya Majapahit, yang berawal dari tujuan Mahapati Gajah Mada yang ingin mempersatukan Nusantara, beserta rombongan masyarakat Majapahit datang ke wilayah Bali.
Adapun suku-suku yang mendiami pulau Bali yaitu Bali Mula, Bali Aga dan Bali Majapahit, walaupun mayoritas merupakan Suku dari Bali Aga dan Bali Majapahit.
Suku Bali Majapahit yaitu suku yang berasal dari masyarakat yang menganut kepercayaan Hindu dan adat istiadat Majapahit.
BACA JUGA:Ingin Liburan Berkesan? Jelajahi 4 Destinasi Wisata Karanganyar yang Menawan!
Suku ini datang setelah adanya utusan dari Majapahit. Zaman Bali Majapahit atau Wong Majapahit bermula pada abad 14, yang tepatya ketika tahun 1350 M, pada masa Sri Kresna yang berasal dari Kepakisan Kediri sebagai utusan Gajah Mada untuk mendiami wilayah Bali.
Kekhasan suku Bali Majapahit dalam hal mata pencaharian yaitu bercocok tanam di sawah, pada daerah dataran. Dan mempunyai satu subak atau satu sumber air yang sama.
Suku Bali Majapahit juga diyakini memberikan pengaruh besar terhadap arsitektur Puri atau Keraton.
Pengaruh Majapahit berkembang pada daerah pakraman bali pada wilayah dataran dan juga pengaruh kerajaan Majapahit ini berkembang di desa Menyali pada perkiraan tahun 633 M.
BACA JUGA:Ingin Menyaksikan Keindahan Cirebon? Yuk, Temukan Tempat Wisata Penuh Sejarah di Sini!
Pada awalnya tidak ada suatu konsep dasar pemukiman di desa Menyali ketika Majapahit masuk ke desa tesebut.
Desa Menyali kemudian memiliki struktur konsep Tri Hita Karana. Hal ini dibuktikan adanya letak Pura Kahyangan Tiga, pemukiman penduduk, dan juga tempat setra agung.
Desa Menyali merupakan tempat percampuran adanya kebudayaan Suku Bali Mula dan Suku Bali Majapahit.
Suku ini memiliki sikap saling toleran dalam hal upacara ritual keagamaan, pemerintahan, ataupun perilaku keseharian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: