Gejala alergi jamur sering disalahartikan sebagai pilek atau sinusitis karena memiliki kemiripan.
Jika keluhan berlangsung terus-menerus, sering kambuh, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya lakukan pemeriksaan ke dokter.
Dokter akan menentukan penyebab keluhan dan memberikan penanganan yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.
Penyebab Alergi Jamur
Penyebab utama alergi jamur adalah spora jamur yang terhirup.
Pada orang yang sensitif, sistem imun menganggap spora sebagai zat berbahaya sehingga menghasilkan antibodi dan memicu pelepasan zat kimia seperti histamin.
Inilah yang menyebabkan munculnya gejala alergi.
Tidak semua jenis jamur memicu alergi. Beberapa jenis yang paling sering menjadi penyebab antara lain:
- Alternaria
- Aspergillus
- Cladosporium
- Penicillium
- Faktor Risiko
Beberapa kondisi dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami alergi jamur, antara lain:
- memiliki anggota keluarga dengan riwayat alergi atau asma,
- bekerja di lingkungan yang banyak mengandung jamur, seperti pertanian, penggilingan, pabrik roti, pembuatan anggur, pertukangan, atau pekerjaan rumah tangga tertentu,
- tinggal atau bekerja di bangunan dengan kelembapan tinggi,
- ventilasi rumah yang kurang baik sehingga udara menjadi lembap, terutama di kamar mandi dan dapur.
BACA JUGA:Manfaat Lemon untuk Kesehatan: Buah Kaya Vitamin C yang Baik Dikonsumsi Setiap Hari
Cara Mendiagnosis Alergi Jamur
Dokter akan melakukan wawancara mengenai gejala, riwayat kesehatan, dan pemeriksaan fisik.
Bila dicurigai sebagai alergi jamur, pemeriksaan lanjutan dapat dilakukan, seperti:
1. Tes tusuk kulit
Pada pemeriksaan ini, sejumlah kecil ekstrak alergen diteteskan pada kulit, kemudian kulit ditusuk menggunakan jarum khusus.
Jika muncul bentol dan rasa gatal, kemungkinan terdapat alergi terhadap zat tersebut.