Dalam hal busananya terdapat busana warok tua, busana warok muda, busana jatil, busana pujangganong, dan busana kelana sewandana.
Seni reog Ponorogo tidak hanya bernilai seni atau estetika, namun juga mengandung nilai-nilai yang tinggi.
Perkembangan reog Ponorogo berjalan cukup baik.
BACA JUGA:Parah, Usai Hamili Bunga di Ponorogo, Prio Kabur ke Pagar Alam
Ia menjadi sarana belajar bagi siswa dari tingkat dasar hingga menengah atas.
Selain itu, muncul juga "reog santri" di lingkungan pesantren, yang menggambarkan simbol dan nilai-nilai Islami.
Seni reog Ponorogo memiliki bukan hanya nilai estetika, tetapi juga mengandung makna yang dalam.
BACA JUGA:5 Mitos Telaga Ngebel Ponorogo: Naga Baruklinting hingga Batu Suci yang Menakutkan
Setiap komponen dalam pertunjukan mencerminkan nilai-nilai kehidupan: burung merak melambangkan moral yang baik, harimau mencerminkan keberanian dalam membela kebenaran, tari jathil melambangkan semangat kebangsaan dan kepahlawanan, pujangganong menyiratkan semangat serta optimisme, sedangkan kelana sewandana mewakili karakter kepemimpinan.
Hingga saat ini, masyarakat Ponorogo masih berupaya untuk menjaga dan melestarikan reog sebagai warisan nenek moyang yang hidup dan bermanfaat.