“Meskipun dapat dipastikan bahwa banyak elemen dari reyog Ponorogo sebenarnya sudah sangat lama, referensi awal yang diketahui mengenai bentuk seni yang mirip dapat ditemukan dalam Serat Cabolang, sebuah tembang yang kemungkinan ditulis di Surakarta pada akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19,” tulis Kartomi.
Serat Cabolang menceritakan petualangan Cabolang, putra seorang kiai, di Ponorogo.
Ia menyaksikan serta terlibat dalam pertunjukan yang digelar untuk merayakan sunatan.
Pertunjukan tersebut diisi oleh 20 penari jaran kepang, lima gendruwon (yang juga dikenal sebagai Pujangganong) yang semuanya adalah warok, dan tiga anak laki-laki kemayu (jathil) di tengah.
BACA JUGA:Oooo, Reog Ponorogo, Kisah Legenda dari Tanah Jawa Timur, Ini Ceritanya!
Acara ini juga diiringi oleh orkes srunen yang terdiri dari slomprit, angklung, kendang, kenong, dan kempul.
Kesenian reog tetap ada seiring berjalannya waktu. Beberapa penyesuaian dilakukan mengikuti perkembangan zaman.
Misalnya, jathil yang dulunya ditarikan oleh laki-laki muda berparas menawan kini telah digantikan oleh penari wanita.
Gerakan mereka pun menjadi lebih luwes, gesit, dan feminin.
BACA JUGA:5 Mitos Telaga Ngebel Ponorogo: Naga Baruklinting hingga Batu Suci yang Menakutkan
Asal-usul Reog Ponorogo
Karena seni ini sudah adanya sejak lama, asal-usul reog Ponorogo memiliki banyak versi.
Beberapa menghubungkannya dengan kepercayaan animisme mengenai adanya roh pelindung yang menjaga suatu daerah.
Mengingat Ponorogo masih dikelilingi hutan lebat, roh tersebut digambarkan sebagai harimau.
Masyarakat percaya roh harimau dapat mengusir makhluk jahat atau menolak bencana (menghindarkan diri dari wabah penyakit).
BACA JUGA:Oooo, Reog Ponorogo, Kisah Legenda dari Tanah Jawa Timur, Ini Ceritanya!