Catatan sejarah menunjukkan bahwa sejak abad ke-17, masyarakat di sekitar Danau Tempe telah mengembangkan sistem perairan dan pertanian yang cukup maju.
Tradisi nelayan di danau ini juga telah berlangsung secara turun-temurun, termasuk penggunaan perahu tradisional dan teknik menangkap ikan secara ramah lingkungan.
Kekayaan Ekologis
Tumbuhan air seperti enceng gondok dan berbagai jenis rumput rawa tumbuh subur di sekitar danau, menciptakan habitat alami bagi berbagai jenis ikan, burung, dan reptil.
BACA JUGA:Waspada! Ini 10 Tanda Seseorang Diduga Memelihara Tuyul demi Kekayaan Kilat
Di antaranya, terdapat ikan mujair, bandeng, dan gabus yang menjadi komoditas penting bagi nelayan setempat.
Bahkan, setiap tahun, sekitar bulan Juni, masyarakat menggelar Festival Danau Tempe yang menjadi simbol syukur atas hasil tangkapan ikan yang melimpah.
Festival ini menampilkan berbagai acara budaya seperti lomba perahu tradisional, pertunjukan musik Bugis, serta ritual adat yang menggambarkan keterikatan masyarakat dengan alam.
Permukiman Apung dan Kearifan Lokal
Salah satu keunikan Danau Tempe adalah adanya rumah-rumah apung yang ditinggali oleh para nelayan.
Gaya hidup ini menunjukkan kearifan lokal masyarakat Bugis dalam beradaptasi dengan lingkungan dan menjaga harmoni dengan alam.
Di dalamnya, aktivitas sehari-hari seperti memasak, merajut jala, hingga kegiatan sosial antarwarga tetap berjalan sebagaimana layaknya di daratan.
BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Museum Puri Lukisan Ubud: Jejak Seni di Jantung Bali!
Keunikan inilah yang membuat Danau Tempe menjadi destinasi wisata budaya yang menarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Ancaman dan Upaya Pelestarian
Seiring perkembangan zaman, Danau Tempe menghadapi berbagai tantangan, mulai dari sedimentasi, pencemaran air, hingga perubahan iklim yang mempengaruhi ekosistemnya.