PAGARALAMPOS.COM - Di tengah kesibukan Kota Pasuruan, Jawa Timur, berdiri sebuah bangunan tua yang telah menjadi saksi bisu perjalanan waktu—Gedung Harmonie.
Bangunan ini bukan sekadar peninggalan lama, melainkan gambaran kehidupan sosial pada masa kolonial Belanda yang kini mulai terlupakan oleh banyak orang.
Meskipun kurang dikenal dibandingkan dengan situs bersejarah lainnya di Indonesia, Gedung Harmonie menyimpan cerita penting dari masa lalu yang layak untuk diingat.
Lebih dari sekadar bangunan fisik, tempat ini mewakili dinamika sosial, budaya, dan politik selama era penjajahan
Gedung ini dibangun sekitar tahun 1830-an, ketika Pasuruan masih menjadi bagian dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda.
BACA JUGA:7 Cakra dalam Tubuh: Sumber Energi Penting untuk Kesehatan dan Keseimbangan Emosi
BACA JUGA:Rahasia Daun Sirsak: Khasiat Alaminya untuk Menjaga Kesehatan Tubuh
Saat itu, pembangunan berbagai fasilitas untuk kalangan Eropa marak terjadi, termasuk klub sosial dan gedung pertemuan seperti Harmonie.
Nama "Harmonie" sendiri umum digunakan sebagai nama klub eksklusif bagi warga Belanda. Desainnya mengusung gaya arsitektur neoklasik yang identik dengan tiang-tiang besar, jendela lebar, dan bentuk bangunan yang simetris.
Pada masa jayanya, gedung ini menjadi tempat berlangsungnya berbagai kegiatan elite: dari pesta dansa, pertunjukan musik, hingga pertemuan resmi antara pejabat Belanda dan tokoh lokal.
Pusat Aktivitas Elite Kolonial
Harmonie menjadi titik temu para elite Eropa—termasuk pejabat pemerintah, pengusaha perkebunan, dan kaum bangsawan.
Pesta mewah dengan musik orkestra dan jamuan khas Barat menjadi hal lumrah di tempat ini.
BACA JUGA:Inilah Cara LPPM Universitas Pertahanan RI Meningkatkan Kesehatan dan Hubungan Sosial
BACA JUGA:Manfaat Tersembunyi Buah Ketapang: Rahasia Alam untuk Kesehatan dan Vitalitas Tubuh