PAGARALAMPOS.COM - Di tengah hiruk-pikuk modernisasi dan pesatnya perkembangan pariwisata di Bali, ada satu desa yang tetap teguh menjaga warisan budaya dan tradisinya secara turun-temurun.
Desa itu adalah Penglipuran, sebuah desa adat yang terletak di Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali.
Dikenal sebagai salah satu desa terbersih di dunia, Penglipuran bukan hanya menarik dari segi estetika, tetapi juga menyimpan sejarah panjang yang penuh nilai filosofis dan spiritual.
Asal Usul Nama Penglipuran
BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Patung Yesus Buntu Burake: Simbol Iman dari Puncak Tana Toraja!
Secara etimologis, nama "Penglipuran" berasal dari kata pengeling dan pura, yang berarti "pengingat leluhur".
Nama ini mencerminkan fungsi utama desa sebagai tempat yang didedikasikan untuk mengenang dan menghormati para leluhur.
Dalam kepercayaan masyarakat setempat, para leluhur bukan sekadar bagian dari masa lalu, tetapi juga pemandu moral dan spiritual kehidupan sehari-hari.
Menurut cerita turun-temurun, masyarakat Penglipuran berasal dari desa Bayung Gede, Kintamani.
Mereka bermigrasi ke wilayah yang sekarang dikenal sebagai Penglipuran sekitar abad ke-13 hingga ke-15, pada masa pemerintahan Kerajaan Bangli.
Perpindahan ini dilakukan untuk alasan keamanan dan juga karena perintah raja yang menghendaki adanya komunitas pelestari adat dan spiritual di wilayah itu.
BACA JUGA:Sejarah Patung Dewa Murugan: Ikon Keagamaan dan Keajaiban Arsitektur!
Struktur Sosial dan Tata Ruang Tradisional
Salah satu hal yang membuat Desa Penglipuran sangat unik adalah tata ruangnya yang mengikuti prinsip Tri Mandala dalam arsitektur Bali, yaitu pembagian ruang menjadi tiga bagian: Utama Mandala (paling suci), Madya Mandala (tengah), dan Nista Mandala (pinggir).