Melalui gerakan yang dinamis dan syair-syair bernuansa religius, tarian ini menjadi sarana untuk menyampaikan pesan moral dan nilai keagamaan kepada masyarakat, terutama kalangan muda.
BACA JUGA:Sejarah Misteri Lubuak Rantiang: Antara Keindahan dan Aura Gaib di Tanah Minang!
Tari ini juga erat kaitannya dengan kehidupan pesantren atau dayah di Aceh, di mana para santri diajarkan untuk menyatu dalam ritme kehidupan yang tertib, terstruktur.
Dan penuh semangat kebersamaan—nilai-nilai yang tercermin kuat dalam gerakan Tari Ratoeh Jaroe.
Dalam perkembangannya, tarian ini kemudian mulai dipentaskan dalam berbagai acara adat, perayaan daerah, hingga pentas seni tingkat nasional dan internasional.
Ciri Khas dan Koreografi
Salah satu keistimewaan dari Tari Ratoeh Jaroe adalah formasinya yang mengandalkan barisan penari duduk bersila atau bersimpuh berjajar rapi.
BACA JUGA:Sejarah Tradisi Bambu Gila: Warisan Mistis dan Budaya Sakral dari Tanah Maluku!
Para penari biasanya terdiri dari belasan hingga puluhan orang perempuan, mengenakan busana adat khas Aceh yang berwarna-warni.
Gerakan tari ini mengedepankan kekompakan dan ketepatan tempo, terutama dalam gerakan tangan, badan, dan kepala yang dilakukan serentak.
Terkadang penari juga melakukan gerakan cepat yang menantang ketahanan fisik dan konsentrasi tinggi.
Gerakan dalam Tari Ratoeh Jaroe tidak hanya menampilkan keindahan visual, tetapi juga menyampaikan pesan-pesan tertentu.
Misalnya, gerakan menyilang tangan melambangkan keteguhan iman, gerakan tangan terbuka mengisyaratkan keterbukaan terhadap ilmu, dan gerakan mengayun ke depan menggambarkan semangat menghadapi masa depan.
BACA JUGA:Sejarah Desa Adat Wae Rebo: Warisan Leluhur di Atas Awan Flores yang Bertahan Melawan Zaman!
Syair atau nyanyian yang mengiringi tarian ini biasanya dalam bahasa Aceh, berisi pujian kepada Tuhan, ajakan untuk menjaga moral, serta semangat persatuan.
Tari Ratoeh Jaroe di Panggung Dunia