BACA JUGA:Haram Keturunan Adipati Cepu ke Gunung Lawu. Ternyata Ini Sosok yang Mengutukannya!
Yang menarik, bentuk candi ini cenderung lebih membulat dan tidak menjulang tajam ke atas seperti candi-candi Hindu lainnya.
Ini menimbulkan dugaan bahwa Candi Brahu merupakan candi Buddha. Bentuk atapnya pun sudah tidak utuh, dan sebagian besar ornamen arsitektural di bagian atas telah hilang karena pengaruh waktu dan cuaca.
Meski begitu, struktur utamanya masih cukup kokoh dan menyiratkan keagungan masa lalu.
Fungsi Candi dan Temuan Arkeologis
Para ahli arkeologi masih memperdebatkan fungsi asli Candi Brahu. Beberapa teori menyebutkan bahwa candi ini digunakan sebagai tempat pembakaran jenazah raja atau tokoh penting.
BACA JUGA:Berani Uji Nyali? Telusuri Kemisteriusan Gunung Sibuatan yang Terkenal Mistik
Hal ini diperkuat dengan laporan awal dari Belanda pada abad ke-19 yang menyebutkan bahwa di dalam candi ditemukan abu, arang, dan logam-logam mulia seperti emas dan perak.
Namun, tidak ditemukan relung atau arca dewa-dewi Hindu maupun Buddha yang biasanya terdapat di candi pemujaan.
Hal ini membuat sebagian peneliti yakin bahwa Candi Brahu lebih bersifat memorial, yakni dibangun untuk mengenang seseorang yang telah wafat, bukan sebagai tempat ibadah aktif.
Peran dalam Sejarah Majapahit
Meskipun asal usul pastinya masih diselimuti misteri, banyak sejarawan mengaitkan Candi Brahu dengan dinasti-dinasti awal Majapahit.
Prasasti Alasantan menyebutkan bahwa tempat ini adalah pusat kegiatan keagamaan dan pemerintahan di bawah Mpu Sindok.
Yang dikenal sebagai pendiri Wangsa Isyana pendahulu dari raja-raja besar Majapahit seperti Raden Wijaya dan Hayam Wuruk.
Dengan demikian, Candi Brahu dapat dipandang sebagai saksi bisu transisi penting dalam sejarah Jawa: dari Mataram Kuno menuju kebangkitan Majapahit.