Menelusuri Sejarah Naskah Kuno Nusantara: Lontar, Dluwang, dan Kulit Kayu!

Selasa 15-04-2025,19:29 WIB
Reporter : Lia
Editor : Almi

Dluwang digunakan secara luas di Jawa, terutama pada masa kerajaan Islam seperti Mataram dan Demak.

Proses pembuatan dluwang melibatkan pemukulan serat kulit kayu hingga pipih dan menyatu, membentuk lembaran kertas.

Teksturnya tebal, kuat, dan agak kasar, tetapi sangat tahan lama. Tulisan dalam naskah dluwang biasanya memakai tinta hitam dengan aksara Arab-Jawi, Pegon, atau Jawa.

Naskah-naskah dluwang banyak memuat teks keagamaan Islam, seperti tafsir, fiqih, dan doa-doa, serta karya sastra lokal seperti Serat Centhini. Banyak dari naskah ini disimpan di pesantren-pesantren tua atau koleksi kerajaan.

BACA JUGA:Taman Sriwedari: Jejak Sejarah, Pusat Kebudayaan, dan Warisan Seni Pertunjukan Abad ke-20 di Kota Solo!

Kulit Kayu: Jejak Tradisi Tertua

Sebelum lontar dan dluwang, masyarakat Indonesia juga menulis di media yang lebih primitif, seperti kulit kayu.

Salah satu contoh paling awal ditemukan di daerah pedalaman Sumatra dan Kalimantan, di mana masyarakat adat menulis pada lembaran kulit kayu pohon tertentu seperti pohon saeh atau mulberry lokal.

Tulisan pada kulit kayu biasanya lebih simbolik atau digunakan untuk keperluan magis dan ritual.

BACA JUGA:Sejarah Taman Bunga Nusantara: Oase Warna-warni di Kaki Gunung Gede!

Naskah kulit kayu dari Batak dikenal dengan nama pustaha, yang berisi ramalan, pengobatan, dan mantra. Dalam budaya Batak, pustaha ditulis oleh dukun atau datu, dan menjadi semacam buku pegangan spiritual.

Media ini membuktikan bahwa tradisi literasi tidak hanya milik kerajaan atau pusat kekuasaan, tetapi juga berkembang dalam kehidupan masyarakat adat di pelosok Nusantara.

Peran dan Tantangan Pelestarian

Naskah-naskah kuno ini memiliki nilai sejarah, sastra, dan spiritual yang sangat tinggi. Namun, keberadaan mereka kini menghadapi berbagai tantangan.

BACA JUGA:Sejarah Taman Bunga Nusantara: Oase Warna-warni di Kaki Gunung Gede!

Banyak naskah rusak akibat usia, lingkungan yang lembap, dan kurangnya perawatan. Beberapa juga hilang karena konflik, kebakaran, atau pencurian.

Kategori :