Denting Sejarah dari Menara: Menelusuri Jejak Lonceng Gereja Katedral Jakarta!

Kamis 10-04-2025,12:30 WIB
Reporter : Lia
Editor : Almi

Lonceng ini berfungsi untuk menandai waktu misa, perayaan hari besar keagamaan, dan juga menjadi tanda berkabung saat ada tokoh penting gereja atau umat yang wafat.

Nada dentangnya khas dan kuat, sehingga mudah dikenali bahkan dari kejauhan.

Simbol Kekristenan dan Identitas Kolonial

Pada masa kolonial Belanda, lonceng gereja memiliki makna lebih dari sekadar panggilan ibadah. Ia juga menjadi simbol kehadiran dan dominasi budaya Barat—khususnya Eropa Kristen—di wilayah Hindia Belanda.

BACA JUGA:Sejarah Pantai Saparua Maluku: Keindahan Alam yang Bersanding dengan Jejak Perjuangan!

Gereja Katedral yang berada di seberang Masjid Istiqlal saat ini, menjadi lambang keberadaan agama Katolik di pusat kekuasaan kolonial Batavia.

Namun seiring waktu, lonceng ini juga menjadi simbol toleransi dan keberagaman.

Letaknya yang berdekatan dengan masjid terbesar di Asia Tenggara menunjukkan bagaimana dua simbol agama besar bisa berdiri berdampingan secara damai di pusat kota Jakarta.

Lonceng dalam Masa Kemerdekaan dan Modernisasi

BACA JUGA:Sejarah Pasar Setan di Gunung Lawu: Antara Mitos dan Kenyataan Mistis!

Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, Gereja Katedral tetap mempertahankan loncengnya sebagai bagian dari tradisi liturgi.

Suara lonceng tetap terdengar setiap akhir pekan dan saat-saat khusus.

Dalam masa modern, penggunaan lonceng juga menjadi lebih terjadwal dan diintegrasikan dengan sistem audio modern, tanpa menghilangkan nilai historis dan spiritualnya.

Meski gedung Katedral beberapa kali mengalami renovasi ringan, lonceng tetap dipertahankan dalam bentuk aslinya. Hal ini menunjukkan upaya pelestarian nilai sejarah yang melekat pada benda-benda liturgis kuno.

BACA JUGA:Asal-usul Pura Besakih dan Kisah Mistis Manik Angkeran yang Melegenda

Makna Spiritualitas dan Budaya

Kategori :