Suku Biak, yang kini menjadi keliru satu gerombolan etnis terbesar pada Papua, mendiami daerah utara Teluk Cenderawasih.
Mereka terdiri dari tiga pulau primer: Biak, Supiori, dan Numfor, dengan total luas daratan kurang lebih 2500 km2.
Sejarah suku ini sebagai landasan krusial, terutama ketidaksetaraan gender yg memengaruhi kiprah serta status sosial perempuan Biak.
Pada masa kolonial, wanita seringkali dianggap sebagai komoditas perdagangan, bahkan sebagai budak atau indera buat melahirkan.
Pada pandangan spiritual Biak, wanita dianggap menjadi penjaga global bawah tanah, dengan beberapa disebut mempunyai kekuatan magis.
Penelitian mengatakan bahwa perempuan, terutama yg diklaim penyihir (“Mon”), menjadi sasaran selama penyerangan, membentuk dinamika yang tragis.
Perbudakan perempuan di Era Kolonial
Studi lebih lanjut menyoroti kesulitan membedakan apakah tengkorak yg dianalisis milik korban perang antar-suku atau intra-suku.
BACA JUGA:Memahami Lebih Dalam Sejarah Masjid Kuno Bayan: Memiliki Arsitektur Unik dan Filosofi!
Luka-luka di tengkorak mencerminkan eksekusi, menunjukkan bahwa korban mungkin tidak dapat membela diri. Teknik fotografi (RSP Method) digunakan buat menangkap dengan kentara pola perlukaan.
Hasil penelitian menemukan porotic hyperostosis, indikator stres fisiologis yang mengisyaratkan stres gizi atau penyakit, mungkin dampak infeksi parasit, pada periode awal hayati individu tersebut.
Menggunakan kemungkinan individu ini artinya seseorang wanita serta korban tragis, dugaan bahwa beliau ialah budak perempuan yang dibawa dari luar wilayah semakin bertenaga.
Penelitian ini menghadirkan potongan sejarah yang sering kali terlupakan, memberikan bunyi kepada individu yang terlalu acapkali diabaikan dalam catatan sejarah.
BACA JUGA:Kisah Sejarah Suku Sentinel yang Hidup Di Zaman Batu, Tanpa Berhubungan Dengan Orang Asing!
Menggunakan pendekatan biokultural, penelitian ini membantu mengungkap insiden traumatis pada masa lalu dan menghormati mereka yg hidupnya telah terlupakan.