Gundul dalam Tradisi India Ketika Rambut Dipersembahkan sebagai Tanda Pengorbanan
Gundul dalam Tradisi India Ketika Rambut Dipersembahkan sebagai Tanda Pengorbanan--
PAGARALAMPOS.COM - Dalam tradisi spiritual India, menggunduli kepala bukan sekadar tindakan biasa, melainkan simbol pengorbanan yang sarat makna.
Di kuil-kuil seperti Tirupati di Andhra Pradesh, jutaan orang rela antre berjam-jam untuk mempersembahkan rambut mereka sebagai bentuk rasa syukur, tobat, atau nazar yang telah terpenuhi.
Aksi menggundul ini mencerminkan pelepasan ego, kelekatan duniawi, dan penyerahan diri secara total kepada kekuatan yang lebih tinggi.
Setiap helai rambut yang jatuh adalah simbol kerendahan hati dan kesediaan untuk melepaskan sesuatu yang dianggap berharga demi nilai spiritual yang lebih tinggi.
BACA JUGA:Rambut Panjang Lurus dalam Budaya Dayak Antara Keanggunan dan Simbol Keturunan
Tradisi ini tidak hanya dijalankan oleh umat awam, tetapi juga oleh para biksu, sannyasi, dan praktisi spiritual yang memilih hidup lepas dari keterikatan material.
Mereka menggunduli kepala sebagai bagian dari ritus inisiasi menuju kehidupan asketis, pertanda bahwa mereka telah meninggalkan kehidupan duniawi untuk mencari pencerahan.
Dalam ajaran Hindu, rambut dipercaya menyimpan ego dan kesombongan maka mencukurnya berarti membersihkan diri dari energi negatif yang menghalangi pertumbuhan spiritual.
Bahkan dalam teks-teks kuno seperti Veda dan Upanishad, penggundulan dipandang sebagai laku suci yang menunjukkan ketulusan niat mendekat pada Tuhan.
BACA JUGA:Gaya Rambut Gimbal Suku Rastafari Bukan Sekadar Fashion, tapi Filosofi Hidup
Tidak hanya dalam konteks keagamaan, pengorbanan rambut juga memiliki dimensi sosial dan emosional yang dalam.
Banyak orangtua menggunduli anak mereka di usia muda sebagai ritual pembersihan atau ucapan terima kasih atas kelahiran yang selamat.
Di sisi lain, ada pula para janda yang pada masa lalu diwajibkan menggunduli kepala sebagai simbol kehilangan dan kesetiaan pada suami yang telah tiada—sebuah praktik yang kini banyak dikritik karena dianggap menindas.
Meski demikian, makna pengorbanan tetap melekat kuat, menjadikan rambut bukan sekadar bagian tubuh, tetapi alat komunikasi antara manusia dan Yang Maha Kuasa.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
