Pemkot PGA

Sejarah Penggunaan Metode Hisab dalam Menentukan Idulfitri

Sejarah Penggunaan Metode Hisab dalam Menentukan Idulfitri

Sejarah Metode Hisab Muhammadiyah-net-

Menurut laman kemenag. go. id, menteri agama anggota MABIMS sepakat untuk menggunakan kriteria baru dengan tinggi hilal minimum 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Dengan demikian, biasanya terdapat perbedaan waktu awal puasa Ramadhan yang dapat berselang satu hari antara hasil rukyat dan hasil hisab.

Hal ini terkait dengan penerapan istikmal, yang berarti pembulatan jumlah hari menjadi tiga puluh hari sebelum dimulainya bulan baru jika hilal tidak terlihat. Sidang isbat, yang biasa dilakukan pada tanggal 29 Syaban, tahun ini jatuh pada 10 Maret 2024.

BACA JUGA:Dari Letusan Purba ke Legenda Sangkuriang, Sejarah Gunung Tangkuban Perahu yang Terlupakan

Dalam sidang isbat, seperti yang dilansir oleh Kompas. com, biasanya akan dipaparkan hasil pengamatan posisi hilal pada awal Ramadan. Setelah itu, sidang dilakukan secara tertutup, dan hasilnya akan disampaikan secara langsung serta disiarkan oleh media massa.

Sidang isbat pertama kali diadakan untuk menentukan awal Ramadhan tidak lama setelah Departemen Agama didirikan pada 3 Januari 1946. Kini, lembaga tersebut telah bertransformasi menjadi Kementerian Agama, yang berlokasi di seberang Lapangan Banteng.

Kegiatan isbat mulai berjalan sejak tahun 1950, dengan menghadirkan para ulama untuk menentukan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Dalam sidang isbat tersebut, menteri agama mendengarkan paparan dari para ulama serta organisasi massa Islam.

Pada tahun 1972, Departemen Agama membentuk Badan Hisab Rukyat (BHR) untuk menyelaraskan pelaksanaan hari raya Islam, berkolaborasi dengan para astronom untuk memberikan perspektif ilmiah.

Sejak 2013, Kementerian Agama juga mengundang sejumlah duta besar negara sahabat untuk ikut serta dalam sidang isbat. Dua organisasi massa Islam besar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, sering kali memiliki perbedaan dalam menentukan awal Ramadhan.

Perbedaan ini disebabkan oleh metode yang dipakai masing-masing organisasi. NU menggunakan metode rukyatul hilal, yang melibatkan pengamatan langsung hilal, sedangkan Muhammadiyah memilih metode wujudul hilal melalui hisab. Hisab di sini mencakup perhitungan posisi Bumi terhadap Matahari dan Bulan secara matematis dan astronomis.

Sifat utama sidang isbat adalah musyawarah, di mana hasil yang dicapai merupakan kesepakatan di antara perwakilan masing-masing organisasi Islam. Oleh karena itu, baik NU maupun Muhammadiyah tidak memaksakan masyarakat untuk mengikuti keputusan mereka dalam penetapan awal Ramadhan maupun 1 Syawal atau Idulfitri. Itulah sekilas tentang sejarah Muhammadiyah yang menggunakan metode hisab dalam menentukan awal puasa Ramadhan serta Idulfitri dan Iduladha.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait