Ternyata Berbohong Ada yang DibolehkaN? Yuk Simak Ini Penjelasannya

Ternyata Berbohong Ada yang DibolehkaN? Yuk Simak Ini Penjelasannya

 PAGARALAMPOS.COM - Ternyata Berbohong Ada yang DibolehkaN? Yuk Simak Ini Penjelasannya

Adakah bohong atau dusta yang dibolehkan? Asalnya memang berbohong itu terlarang dikecualikan dalam tiga hal. Ketika itu berbohong jadi rukhsoh atau keringanan karena ada maslahat yang besar.

Ada hadis yang menyebutkan hal ini,

Ummu Kultsum binti Uqbah bin Abi Muaythin, ia di antara para wanita yang berhijrah pertama kali yang telah membaiat Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ia mengabarkan bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Tidak disebut pembohong jika bertujuan untuk mendamaikan dia antara pihak yang berselisih di mana ia berkata yang baik atau mengatakan yang baik (demi mendamaikan pihak yang berselisih, -pen)."

BACA JUGA:Benarkan 9 Hal Ini Menandakan Kita Lagi di Awasi Malaikat? Ini Penjelasan Lengkapnya!

bnu Syihab berkata, "Aku tidaklah mendengar sesuatu yang diberi keringanan untuk berdusta di dalamnya kecuali pada tiga perkara, "Peperangan, mendamaikan yang berselisih, dan perkataan suami pada istri atau istri pada suami (dengan tujuan untuk membawa kebaikan rumah tangga)." (HR. Bukhari no. 2692 dan Muslim no. 2605, lafazh Muslim).

Dusta dan Bohong Tetap Haram

Contoh perkataan suami pada istrinya yang dimaksud di atas, "Tidak ada seorang pun yang lebih aku cintai selain dirimu." Atau sebaliknya istri mengatakan seperti itu.

Intinya, dusta tetaplah suatu perkara yang diharamkan. Bohong atau dusta hanyalah diringankan pada suatu perkara yang dianggap punya maslahat yang besar yaitu yang disebutkan dalam hadis di atas. Dalam suatu kondisi berdusta malah bisa diwajibkan untuk menghindarkan diri dari kehancuran atau kebinasaan seseorang. (Lihat Nuzhatul Muttaqin karya Syaikh Prof Dr. Musthofa Al Bugho, dkk, hal. 134). Tawriyah, Permainan Kata.

BACA JUGA:Kenali Ciri-ciri Kedatangan Malaikat Maut! Bisa Dirasakan Sejak 100 Hari Menjelang Kematian

Namun apakah dusta yang dimaksudkan adalah dusta yang tegas ataukah cuma permainan kata-kata saja (disebut: tawriyah). Yang dimaksud tawriyah adalah menampakkan pada yang diajak bicara tidak sesuai kenyataan, namun dari satu sisi pernyataan yang diungkap itu benar.

Misalnya, ada yang mengatakan demi mendamaikan yang berselisih, "Si Ahmad (yang sebenarnya mencacimu) itu benar-benar memujimu." Maksud pujian ini adalah pujian umum, bukan tertentu karena setiap muslim pasti memberikan pujian pada lainnya.

Misalnya yang lain, karena perselisihan demi mendamaikan, si pendamai berkata, "Si fulan yang penuh dendam padamu itu selalu mendoakanmu." Mendengar seperti itu, tentu akan reda pertikaian yang ada. Karena memang setiap muslim itu akan mendoakan yang lainnya dalam doa termasuk dalam salatnya. Seperti saat tasyahud pada bacaan "assalamu alaina wa ala ibadillahish sholihiin" (salam untuk kita dan hamba Allah yang shalih). Yang dimaksud di sini adalah doa bagi setiap muslim. Jadi seakan-akan perkataannya tadi menunjukkan dusta, namun dari satu sisi benar karena ia pun mendoakan kaum muslimin secara umum dalam salat.

Namun yang ingin menyelesaikan atau mendamaikan perselisihan hendaklah menjauhkan diri dari dusta. Kalau terpaksa, maka hendaklah yang dilakukan bentuknya adalah tawriyah. Tawriyah itu dibolehkan jika ada maslahat.

BACA JUGA:Terima WTP Sembilan Kali Berturut-turut, Haryanto : Berkat Komitmen dan Kerja Keras Seluruh OPD

Tawriyah pada Pasangan Suami Istri

Sedangkan contoh perkataan dusta atau bohong pada istri yang dibolehkan itu seperti apa? Bentuknya juga adalah tawriyah, yaitu mengatakan sesuatu yang nampak menyelisihi kenyataan namun satu sisi ada makna benarnya. Contoh misalnya yang dikatakan oleh suami pada istrinya, "Engkau adalah manusia yang paling aku cintai." Ini tujuannya untuk mengikat cinta dan kasih sayang antara sesama pasangan.

Akan tetapi hendaklah tidak diperbanyak bentuk tawriyah di antara suami istri. Jika sampai apa yang diucap menyelisihi realita dan terungkap, maka yang muncul di antara pasangan adalah saling benci dan bermusuhan.

Penjelasan terakhir di atas, penulis nukil dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Sholihin, juz ke-3.

BACA JUGA:Jalin Koordinasi, Lapas Kelas III Pagaralam dan BNNK Pagaralam Siap Perangi Narkoba

Semoga Allah memberikan kepahaman. Wallahu waliyyut taufiq. 

Nah itulah artikel mimin pagaralampos bahas, semoga berkah dan bermanfaat.*

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: