Kain Jumputan Palembang: Sejarah, Proses Pembuatan, dan Nilai Budaya

Senin 20-04-2026,15:27 WIB
Reporter : Fitri
Editor : Almi

Jika diperlukan, kain dapat dicelup ulang untuk menghasilkan kombinasi warna yang lebih kaya.

Terakhir, kain dicuci kembali, dijemur, dan disetrika.

Motif jumputan yang umum antara lain kembang janur, bintik lima, bintik tujuh, bintik sembilan, motif terong (cucung), serta mawar ganda.

BACA JUGA:Surga Tropis di Kepulauan Gili: Wisata Alam dan Kehidupan Malam yang Berpadu

Upaya Pelestarian Kain Jumputan

Pelestarian kain jumputan dilakukan melalui berbagai cara, seperti peningkatan kualitas produk, penyelenggaraan pelatihan, serta pameran budaya.

Upaya ini bertujuan agar kain jumputan tetap diminati dan berkembang.

Selain itu, pemerintah daerah melalui dinas terkait juga mendukung dengan mempermudah perizinan pameran serta mendorong pengakuan kain tradisional sebagai warisan budaya tak benda, baik di tingkat nasional maupun internasional.

BACA JUGA:Wisata Alam di Sulawesi: Menelusuri Taman Nasional dan Pantai Eksotis yang Masih Tersembunyi

Peran masyarakat juga sangat penting, termasuk pengrajin, pedagang, dan tokoh adat.

Mereka dapat membantu melestarikan kain jumputan dengan terus mempromosikan dan memperkenalkannya kepada masyarakat luas.

Kategori :