PAGARALAMPOS.COM- Kain jumputan merupakan salah satu warisan budaya khas Palembang yang memiliki keunikan tersendiri.
Pembahasan berikut mencakup asal-usul, teknik pembuatan, nilai budaya, hingga upaya pelestariannya.
Kain ini juga sering dikenal sebagai kain pelangi karena warna dan motifnya yang beragam.
Sejarah Kain Jumputan
Pada masa Kerajaan Sriwijaya, wilayah Sumatera dan Jawa telah mengenal kain sutera patola.
Dari pengaruh tersebut, seni jumputan diperkirakan mulai berkembang sekitar abad ke-7 hingga ke-8, seiring masuknya kain sutera dan benang dari Cina.
Di Jawa, kain jumputan dikenal dengan nama kain cinde.
Kain ini biasanya digunakan sebagai selendang, baik untuk menggendong maupun sebagai pelengkap dalam tarian tradisional.
BACA JUGA:Camping Jadi Tren Wisata Alam Bebas, Bisnis Sewa Perlengkapan Ourdoor Raup Cuan
Ketika budaya Jawa mulai masuk ke lingkungan keraton Palembang sekitar abad ke-16, penggunaan kain ini semakin meluas.
Hal ini terjadi karena para bangsawan Jawa membawa berbagai kain tenun ke Palembang, sehingga memengaruhi perkembangan busana lokal.
Nilai Budaya Kain Jumputan
Jumputan adalah teknik menghias kain dengan cara mengikat bagian tertentu, kemudian mencelupkannya ke dalam pewarna.
BACA JUGA:Ketep Pass Jogja: Spot Wisata Sejuk dengan Panorama Gunung Merapi yang Memukau