Bagian yang diikat akan menghasilkan pola khas setelah proses pewarnaan selesai.
Menurut pengertian umum, jumputan merupakan metode pembuatan motif pada kain dengan menutup bagian tertentu agar tidak terkena warna.
Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kain jumputan dibuat dari kain polos yang kemudian dibentuk menjadi motif tertentu melalui teknik ikat dan celup sesuai dengan desain yang diinginkan.
Teknik Pembuatan Kain Jumputan
BACA JUGA:Nusa Tenggara Timur: Surga Tersembunyi Wisata Laut yang Memukau dan Terlupakan
Proses pembuatan kain jumputan dilakukan dengan beberapa teknik seperti tie and dye, stitch and dye, rincek, dan tritik.
Tahapannya dimulai dengan membuat pola pada kain, lalu menjahit atau mengikat bagian tertentu sesuai desain.
Langkah awal biasanya menggunakan kain sutera putih sepanjang kurang lebih empat meter.
Pola digambar menggunakan pensil, kemudian bagian motif dijelujur dan diikat kuat dengan tali.
BACA JUGA:Eksplor Pesona Sulawesi Utara: Destinasi Wisata Penuh Warna dari Gunung hingga Lautan
Setelah itu, kain dibungkus plastik dan diikat kembali agar bentuknya tetap terjaga.
Kain yang telah diikat kemudian dicelupkan ke dalam larutan pewarna.
Proses ini dilakukan berulang sambil membolak-balik kain agar warna meresap secara merata.
Setelah warna terserap, kain dibilas hingga bersih, lalu dikeringkan.
BACA JUGA:Deretan Tempat Liburan Rahasia di Indonesia yang Siap Jadi Tren Wisata Tahun 2025
Setelah kering, ikatan dan jahitan dibuka untuk menampilkan motif yang terbentuk.