Letusan modern juga pernah terjadi pada tahun 1980, 1994, 2011, dan 2014. Aktivitas ini memengaruhi penerbangan di bandara Sultan Babullah dan memaksa masyarakat mengungsi sementara waktu.
Meski begitu, masyarakat Ternate telah terbiasa hidup berdampingan dengan aktivitas gunung, sehingga sistem mitigasi bencana kini jauh lebih baik dibanding masa lalu.
BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Rumah Lontiok: Peninggalan Budaya Nusa Tenggara Timur!
Gamalama sebagai destinasi wisata alam dan sejarah
Selain sarat sejarah, Gamalama kini menjadi tujuan wisata yang menarik. Banyak pendaki yang ingin mencapai puncaknya untuk melihat kawah aktif dan menikmati panorama Pulau Ternate dari ketinggian.
Di sekeliling Gunung Gamalama juga terdapat berbagai situs sejarah—benteng, masjid tua, dan permukiman adat—yang memperlihatkan bahwa gunung ini adalah pusat dari perkembangan budaya Ternate.
Jalur pendakian ke Gamalama tidak terlalu panjang, tetapi menantang karena medan curam. Biasanya pendaki membutuhkan 5–7 jam untuk mencapai puncak.
Dari atas, tampak gugusan pulau seperti Tidore, Maitara, dan Halmahera, menciptakan pemandangan ikonik yang sering menggambarkan pesona Kepulauan Maluku.