Banyak ritual adat yang dilakukan dengan menghadap atau mendaki gunung untuk memohon keselamatan, kesuburan, dan perlindungan.
Salah satu tradisi populer adalah upacara Kololi Kie, yaitu ritual mengelilingi gunung untuk memanjatkan doa.
Tradisi ini menunjukkan bagaimana masyarakat Ternate menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan kekuatan yang mereka yakini hadir di sekitar Gunung Gamalama.
Peran Gamalama dalam sejarah Kesultanan Ternate
BACA JUGA:Mengunggkap Sejarah Rumah Bumbung: Warisan Arsitektur Tradisional Indonesia!
Kesultanan Ternate, salah satu kerajaan Islam terbesar di wilayah Maluku, tumbuh bersanding erat dengan keberadaan Gamalama.
Gunung ini menjadi simbol kekuatan dan kejayaan bagi kerajaan yang menguasai perdagangan rempah-rempah, terutama cengkih, pada abad ke-15 hingga ke-17.
Letusan Gamalama beberapa kali berpengaruh langsung pada kebijakan kerajaan.
Misalnya, letusan besar tahun 1673 memaksa pemindahan beberapa permukiman dan mengubah pola ekonomi karena kerusakan lahan perkebunan.
Namun di sisi lain, abu vulkaniknya menyuburkan tanah sehingga produksi cengkih tetap dapat berkembang setelah masa pemulihan.
BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Rumah Lontiok: Peninggalan Budaya Nusa Tenggara Timur!
Selain fungsi ekonominya, Gamalama juga menjadi titik orientasi dalam penataan wilayah Kesultanan Ternate.
Banyak benteng peninggalan kolonial Portugis, Spanyol, dan Belanda dibangun menghadap atau berdekatan dengan gunung ini.
Seperti Benteng Tolukko dan Benteng Oranje, yang menandakan posisi Gamalama sebagai pusat geografis sekaligus simbol kekuatan.
Catatan letusan dan dampaknya bagi masyarakat
Sepanjang sejarah, Gunung Gamalama tercatat telah meletus lebih dari 60 kali. Letusan abad ke-18 dan ke-19 menyebabkan perpindahan penduduk serta menimbulkan tsunami kecil akibat lontaran material vulkanik ke laut.