Banyak catatan kuno menyebut bahwa para raja Majapahit melakukan ritual persembahan di kaki gunung ini untuk memohon keselamatan kerajaan dan rakyatnya.
Bahkan, beberapa pendeta Hindu dipercaya melakukan semedi di sekitar lereng Semeru untuk mencari pencerahan.
Hingga kini, masyarakat Tengger yang tinggal di sekitar kawasan gunung masih menjaga tradisi leluhur mereka. Mereka meyakini bahwa Mahameru adalah tempat bersemayamnya roh para leluhur dan dewa.
Setiap tahun diadakan upacara Yadnya Kasada, sebuah ritual persembahan kepada Sang Hyang Widi dan leluhur, sebagai bentuk rasa syukur atas berkah alam.
BACA JUGA:Sejarah Gunung Karang: Jejak Alam dan Spiritualitas di Tanah Banten!
Dalam upacara ini, masyarakat melempar hasil bumi, ternak, dan sesajen ke kawah Bromo yang terletak di jalur spiritual menuju Mahameru.
Catatan Pendakian dan Perjalanan Modern
Pendakian menuju puncak Mahameru bukanlah hal yang mudah. Jalur resmi pendakian biasanya dimulai dari Ranu Pani, sebuah desa kecil di ketinggian sekitar 2.100 meter.
Dari sana, para pendaki harus melewati beberapa pos seperti Ranu Kumbolo, Kalimati, dan Arcopodo sebelum mencapai puncak.
Ranu Kumbolo, danau indah di tengah perjalanan, sering disebut sebagai “permata di kaki Mahameru”.
Di tempat ini, para pendaki biasanya beristirahat sambil menikmati pemandangan matahari terbit yang memantul di permukaan air.
Meski menantang, puncak Mahameru menjadi simbol keteguhan dan pencapaian spiritual bagi banyak orang.
Namun, mendaki gunung ini juga memerlukan kewaspadaan tinggi karena Mahameru termasuk gunung berapi aktif yang masih sering mengeluarkan asap dan abu vulkanik dari kawah Jonggring Saloko.
BACA JUGA:Sejarah Suku Bajo: Jejak Pengembara Laut dan Identitas Maritim Nusantara!
Kisah Mistis dan Legenda Puncak