Karena itulah, meskipun pasukan Belanda menjaga ketat benteng ini, mereka tak luput dari konflik-konflik kecil yang meletup sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajahan.
Kondisi Saat Ini dan Upaya Pelestarian
Seiring waktu, Benteng Tangk mulai mengalami kerusakan akibat minimnya perawatan dan faktor cuaca. Sebagian dindingnya telah runtuh, dan vegetasi liar mulai tumbuh di antara reruntuhan.
Namun, jejak sejarahnya masih sangat terasa bagi para pengunjung yang datang untuk menelusuri sisa-sisa kejayaan dan luka masa lalu.
BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Monumen Palagan Ambarawa: Jejak Heroik Pertempuran Rakyat Melawan Penjajah!
Pemerintah daerah dan sejumlah komunitas sejarah di Maluku Tenggara telah mengusulkan program pelestarian benteng ini.
Rencana restorasi terus digagas agar situs ini dapat difungsikan kembali sebagai destinasi wisata sejarah dan edukasi bagi generasi muda.
Harapannya, Benteng Tangk bisa menjadi pusat pembelajaran sejarah kolonialisme di kawasan timur Indonesia.
Warisan yang Tak Boleh Dilupakan
BACA JUGA:Sejarah Kota Muara Enim: Jejak Peradaban Sungai, Kolonialisme, hingga Kota Energi Nasional!
Benteng Belanda Tangk mungkin bukanlah bangunan yang megah atau terkenal di tingkat nasional. Namun, nilai sejarah yang dikandungnya sangat besar bagi masyarakat Kei dan Indonesia secara keseluruhan.
Ia menjadi saksi betapa kerasnya perjuangan rakyat dalam menghadapi kolonialisme, serta bukti fisik dari upaya penguasaan wilayah yang dilakukan bangsa asing terhadap tanah air kita.
Dengan memelihara dan mempelajari warisan seperti Benteng Tangk, kita tak hanya menghormati masa lalu, tetapi juga memperkuat identitas dan kebanggaan akan sejarah lokal yang selama ini terpinggirkan.