Keberadaan sistem nusak menunjukkan bahwa masyarakat Rote telah memiliki struktur sosial yang kompleks dan terorganisir.
Para pemimpin adat tidak hanya bertanggung jawab dalam mengatur urusan pemerintahan lokal, tetapi juga menjadi pelindung nilai-nilai adat dan spiritual yang dipegang teguh oleh masyarakat.
Hubungan dengan Bangsa Asing
BACA JUGA:Sejarah Danau Tempe: Warisan Alam dan Budaya di Jantung Sulawesi Selatan!
Sejak abad ke-16, wilayah Pulau Rote mulai dikenal oleh bangsa-bangsa asing seperti Portugis dan Belanda.
Kehadiran bangsa asing ini membawa pengaruh baru, seperti penyebaran agama Kristen oleh misionaris Eropa dan masuknya sistem kolonial Belanda yang akhirnya mempengaruhi struktur pemerintahan tradisional nusak.
Namun, meski mengalami tekanan dari luar, masyarakat Suku Rote tetap mempertahankan identitas budaya mereka.
Hal ini terlihat dari tetap lestarinya berbagai upacara adat, musik tradisional sasando, serta tenun ikat khas Rote yang sampai kini masih dibuat dengan metode tradisional.
Sasando dan Warisan Budaya
Salah satu warisan budaya paling terkenal dari Suku Rote adalah alat musik tradisional sasando. Instrumen ini dibuat dari bambu dan daun lontar, menghasilkan suara khas yang lembut dan merdu.
BACA JUGA:Sejarah Danau Towuti: Jejak Geologi Purba, Kekayaan Hayati, dan Warisan Budaya di Jantung Sulawesi!
Sasando bukan hanya alat musik biasa, tetapi juga simbol identitas budaya masyarakat Rote yang sarat dengan nilai spiritual.
Selain sasando, pakaian tradisional seperti tenun ikat dengan motif khas dan topi ti’i langga juga menjadi ikon budaya Rote.
Topi ti’i langga yang berbentuk menjulang seperti tanduk ini pernah menjadi simbol diplomasi, bahkan dikenakan Presiden Soekarno dalam kunjungannya ke wilayah timur Indonesia.
Agama dan Kepercayaan
Sebelum masuknya agama Kristen, Suku Rote menganut kepercayaan animisme dan dinamisme, yang memuja roh leluhur dan kekuatan alam.