Hukum adat yang disebut adat tau Samawa dijalankan secara konsisten dalam kehidupan masyarakat.
Bahasa resmi yang digunakan adalah Bahasa Sumbawa, yang memiliki beberapa dialek, tergantung pada wilayahnya.
Salah satu sultan yang terkenal dalam sejarah adalah Sultan Muhammad Kaharuddin III, yang memerintah pada awal abad ke-20.
BACA JUGA:Sejarah Gunung Tilu: Jejak Alam dan Warisan Budaya di Tanah Pasundan,
Beliau dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana dan menjadi jembatan antara tradisi kerajaan dengan kebijakan pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Hubungan dengan Bangsa Asing
Pulau Sumbawa memiliki posisi strategis di jalur perdagangan antara Jawa, Bali, dan bagian timur Indonesia.
Hal ini menyebabkan interaksi yang cukup intens antara masyarakat Sumbawa dengan para pedagang dari berbagai bangsa seperti Tiongkok, Arab, dan India.
Pengaruh Islam juga masuk melalui perdagangan, terutama dari Sulawesi Selatan.
Masuknya Islam tidak serta-merta menghapus budaya lokal. Sebaliknya, Islam berakulturasi dengan kearifan lokal yang sudah ada.
Ritual-ritual adat, upacara panen, hingga bentuk seni tradisional seperti lonto lete (pantun) tetap lestari meskipun telah mengalami adaptasi dengan nilai-nilai agama.
Budaya dan Kearifan Lokal
Kehidupan sosial Suku Sumbawa sangat dipengaruhi oleh nilai gotong royong dan kekeluargaan.
BACA JUGA:Sejarah Gunung Sibuthak: Antara Alam dan Legenda di Balik Kabut!
Masyarakatnya hidup dalam kelompok yang erat, dan keputusan penting sering kali melibatkan musyawarah bersama tokoh adat.
Seni dan budaya juga menjadi bagian penting dalam sejarah suku ini.
Musik tradisional seperti sakeco, tari-tarian adat, serta tradisi lisan menjadi media untuk melestarikan nilai-nilai budaya.