Kawasan perairan di sekitar Pulau Senja juga dikenal kaya akan hasil laut. Penduduk asli pulau tersebut, yang hanya berjumlah puluhan kepala keluarga, hidup dari hasil laut dan mengandalkan kearifan lokal dalam menangkap ikan tanpa merusak ekosistem.
Masa Kolonial dan Penjajahan
BACA JUGA:Candi Abang: Jejak Merah Peradaban Mataram Kuno yang Tersembunyi di Bukit Hijau Sleman!
Memasuki abad ke-16 dan 17, ketika bangsa Eropa mulai datang ke Nusantara, Pulau Senja mulai terdampak oleh gelombang kolonialisme.
Meskipun letaknya terpencil, Belanda sempat membangun pos kecil di pulau ini sebagai tempat pengawasan perairan.
Benteng sederhana dari batu karang dibangun di atas bukit kecil yang menghadap laut, namun kini hanya tersisa pondasi dan beberapa reruntuhan yang tertutup semak.]
Menurut catatan Belanda, pulau ini sempat menjadi tempat karantina sementara bagi awak kapal yang terpapar penyakit tropis.
Karena itu, terdapat kesan mistis yang masih melekat di kalangan warga sekitar. Banyak yang meyakini bahwa Pulau Senja "dijaga" oleh roh-roh leluhur yang tidak suka diganggu.
BACA JUGA:Sejarah Candi Batujaya: Jejak Peradaban Buddha Tertua di Tanah Jawa Barat!
Tradisi dan Kearifan Lokal
Penduduk Pulau Senja memiliki budaya unik yang sangat dipengaruhi oleh tradisi Austronesia. Upacara "Maleko Senja" adalah salah satu tradisi sakral yang diadakan setiap tahun menjelang musim angin timur.
Dalam upacara ini, penduduk mempersembahkan sesajen laut kepada roh penjaga pulau sebagai bentuk permohonan keselamatan dan hasil tangkapan yang melimpah.
Mereka juga memiliki cerita rakyat tentang "Putri Senja", tokoh mitologi yang dipercaya sebagai penjaga pulau.
Konon, ia adalah putri seorang raja laut yang jatuh cinta pada pemuda biasa, dan dikutuk untuk menjadi cahaya senja yang hanya bisa dilihat dari puncak pulau pada waktu-waktu tertentu dalam setahun.
Peran dalam Masa Modern
BACA JUGA:Sejarah Candi Agung Amuntai: Warisan Kerajaan Hindu di Kalimantan Selatan