Konon, leluhur Suku Apung adalah para pelaut dan nelayan yang memilih tinggal di atas air sebagai cara untuk mempertahankan mata pencaharian mereka.
Mereka memanfaatkan perahu dan rakit sebagai sarana berpindah serta menghubungkan komunitas satu dengan yang lain.
Rumah apung mereka terbuat dari kayu ringan, bambu, dan material lain yang bisa mengapung, serta diikat dengan tali tradisional.
Selain sebagai tempat tinggal, rumah apung ini juga menjadi pusat aktivitas sosial dan budaya.
BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Puncak Gunung Pesagi: Jejak Sakral di Atap Tertinggi Lampung Barat
Di sini mereka menjalankan berbagai upacara adat, berkumpul untuk berdiskusi, dan melakukan perdagangan hasil tangkapan laut.
Kehidupan Sosial dan Budaya
Suku Apung memiliki sistem sosial yang erat dan kuat. Masyarakatnya hidup dengan gotong royong dan saling membantu, yang menjadi kunci utama bertahan hidup di lingkungan perairan.
Hubungan kekeluargaan sangat dijaga, dan adat istiadat turun-temurun tetap dilestarikan.
Kegiatan utama Suku Apung adalah nelayan dan pemburu hasil laut. Mereka menggunakan teknik tradisional menangkap ikan dengan jaring, tombak, dan perahu kecil.
Selain itu, mereka juga ahli dalam membuat perahu dan rumah apung dengan cara yang diwariskan secara turun-temurun.
BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Suku Kaili: Jejak Budaya dan Identitas di Sulawesi Tengah!
Upacara adat Suku Apung sering kali berkaitan dengan alam dan laut. Mereka meyakini bahwa laut adalah sumber kehidupan sekaligus tempat tinggal makhluk gaib yang perlu dihormati.
Oleh karena itu, ritual seperti doa sebelum melaut dan persembahan kepada roh laut menjadi bagian dari budaya mereka.
Tantangan yang Dihadapi
Seiring perkembangan zaman dan perubahan lingkungan, Suku Apung menghadapi berbagai tantangan. Perubahan iklim, polusi laut, dan modernisasi mengancam cara hidup tradisional mereka.