Perkembangan Sekolah Istri
BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Rumah Adat Balla Lompoa: Jejak Kejayaan Kerajaan Gowa!
Sekolah Istri yang dibangun Dewi Sartika mengajarkan berbagai pelajaran dasar seperti membaca, menulis, berhitung, serta keterampilan rumah tangga seperti menjahit dan memasak.
Kurikulumnya disesuaikan dengan kebutuhan perempuan pada masa itu, namun tetap memberikan dasar pendidikan yang kuat.
Sekolah-sekolah serupa kemudian dibuka di berbagai kota di Jawa Barat seperti Garut, Sumedang, dan Cianjur.
Dedikasi Dewi Sartika terhadap pendidikan perempuan mendapat pengakuan luas. Ia tidak hanya mengelola sekolah, tapi juga terjun langsung sebagai pengajar dan pengembang kurikulum.
BACA JUGA:Tugu Kujang: Jejak Sejarah, Simbol Budaya Sunda, dan Identitas Abadi Kota Bogor!
Ia melatih guru-guru perempuan agar dapat meneruskan perjuangan mencerdaskan kaum perempuan di tempat lain.
Warisan dan Pengakuan
Perjuangan Dewi Sartika bukan tanpa rintangan. Ia menghadapi tekanan dari masyarakat patriarkal dan pemerintah kolonial Belanda.
Namun, ketekunan dan keyakinannya membuat ia mampu mengatasi berbagai hambatan tersebut.
Ia memperjuangkan hak perempuan bukan melalui konfrontasi, tetapi dengan pendekatan pendidikan dan keteladanan.
BACA JUGA:Sejarah Panjang Pantai Losari: Dari Pelabuhan Niaga Masa Kolonial hingga Menjadi Ikon Wisata Modern!
Pada masa tuanya, Dewi Sartika tetap aktif mengembangkan pendidikan. Ia wafat pada 11 September 1947 di Tasikmalaya, saat terjadi pengungsian akibat agresi militer Belanda.
Meski raganya telah tiada, semangatnya tetap hidup dalam setiap perjuangan perempuan Indonesia hingga kini.