Setelah beberapa saat, bambu yang sebelumnya ringan dan bisa diangkat oleh satu orang, tiba-tiba menjadi sangat berat, keras bergerak sendiri, bahkan melawan arah tarikan para peserta.
BACA JUGA:Sejarah Suku Mee: Mengenal Asal Usul, Budaya, dan Perjalanan Tradisi Masyarakat Pegunungan Papua!
Beberapa orang kuat akan diminta memegang bambu dengan tali atau kain merah, dan mereka akan tampak kewalahan melawan gerakan liar bambu tersebut.
Dalam kondisi tertentu, bambu bahkan bisa “menyeret” para peserta, seolah memiliki nyawa sendiri. Masyarakat percaya bahwa saat bambu kerasukan, ia digerakkan oleh makhluk halus atau roh leluhur.
Makna dan Simbolisme
Tradisi Bambu Gila mengandung makna yang dalam bagi masyarakat Maluku. Ia bukan hanya hiburan, tetapi simbol hubungan antara manusia, alam, dan dunia spiritual. Ada beberapa nilai yang tercermin dari tradisi ini:
BACA JUGA:Sejarah Suku Ayamaru: Jejak Budaya Leluhur dari Danau ke Pegunungan Papua Barat!
Kekuatan spiritual: Tradisi ini menunjukkan keyakinan masyarakat terhadap kekuatan tak kasat mata yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Kebersamaan dan kerja sama: Bambu yang tak bisa dikendalikan sendirian mengajarkan bahwa kekuatan kolektif dan gotong royong dibutuhkan untuk menghadapi tantangan.
Penghormatan terhadap leluhur: Dengan memanggil roh melalui ritual ini, masyarakat menyatakan rasa hormat dan keterikatan pada nenek moyang mereka.
Transformasi ke Pertunjukan Budaya
Dewasa ini, Bambu Gila lebih sering dipentaskan sebagai atraksi wisata budaya, terutama dalam acara-acara festival daerah atau penyambutan tamu penting.
BACA JUGA:Sejarah Suku Bukar Punan: Melestarikan Warisan di Tengah Hutan Kalimantan!
Pemerintah daerah Maluku juga mendorong pelestarian tradisi ini dengan menjadikannya bagian dari promosi budaya daerah.
Meskipun sudah tidak lagi bersifat sakral seperti dulu, unsur mistis masih tetap dipertahankan.
Pawang tetap dilibatkan, dan peserta yang ikut dalam tradisi ini tetap harus mengikuti aturan tertentu agar tidak terkena gangguan spiritual.