Menguak Sejarah Candi Tara: Keagungan Warisan Buddha dari Abad ke-8!

Senin 19-05-2025,11:30 WIB
Reporter : Lia
Editor : Almi

Yaitu semacam plester putih yang digunakan untuk melapisi batu-batu candi agar lebih tahan terhadap cuaca dan memberikan tampilan lebih halus.

Teknologi ini menunjukkan tingginya pengetahuan teknik bangunan pada masa itu.

BACA JUGA:Black Death Pandemi yang Mengubah Sejarah Dunia dan Mengerikan Eropa

Secara keseluruhan, candi ini berbentuk bujur sangkar dengan pintu masuk di keempat sisi, namun pintu utama menghadap ke timur sebagai arah matahari terbit yang disakralkan dalam ajaran Buddha.

Di bagian dalam ruang utama, dahulu terdapat arca Dewi Tara, meskipun kini arca tersebut sudah tidak berada di tempat aslinya lagi.

Relief yang menghiasi dinding luar candi menampilkan berbagai figur bodhisattwa, bunga teratai, makhluk-makhluk mitologis, serta ornamen khas ajaran Mahayana.

Semua itu menjadi bukti keindahan dan kekayaan simbolik yang diusung oleh arsitektur candi ini.

Hubungan dengan Candi Lain

BACA JUGA:Nekat Bobol Puskesmas Gunung Dempo, DPO Ini Akhirnya Diringkus

Keberadaan Candi Tara tidak bisa dilepaskan dari hubungannya dengan Candi Sewu, Candi Plaosan, dan Candi Prambanan, yang semuanya berada dalam satu kawasan budaya dan spiritual di masa kerajaan Mataram Kuno.

Ini mencerminkan bahwa kawasan Yogyakarta dan Jawa Tengah dulunya merupakan pusat penting perkembangan agama Hindu dan Buddha, yang hidup berdampingan dalam harmoni.

Perjalanan Waktu dan Pelestarian

Selama berabad-abad, Candi Tara mengalami berbagai perubahan. Beberapa bagiannya rusak karena faktor alam, gempa bumi, dan penjarahan.

Namun demikian, upaya pelestarian terus dilakukan oleh pemerintah dan para arkeolog sejak era kolonial Belanda hingga sekarang.

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, candi ini sempat dipugar dan diteliti oleh para arkeolog seperti J.G. de Casparis.

BACA JUGA:Menantang Lautan Tak Dikenal Dari Columbus hingga Magellan, Inilah Era Penemuan Gila

Kategori :