BACA JUGA:Kenapa Samudra Pasai Begitu Penting Dalam Sejarah Islam di Asia Tenggara? Cek Faktanya Artikel Ini
Seolah sejarah telah dipoles menjadi kenangan yang bisa dijual di brosur pariwisata.
Di sisi lain, ada Politik Etis.
Digaungkan awal abad ke-20 oleh Belanda yang katanya merasa punya “utang moral” terhadap tanah jajahan.
Tiga pilar utama program ini adalah edukasi, irigasi, dan emigrasi.
BACA JUGA:Sejarah Pulau Kelor: Benteng Martello, Jejak Kolonial dan Warisan Terlupakan di Ujung Jakarta!
Tapi jangan terburu kagum, Politik Etis bukanlah hadiah dari hati yang ikhlas, melainkan investasi yang dikemas dengan nama moralitas.
Sekolah-sekolah dibuka, namun hanya untuk segelintir elite pribumi.
Irigasi dibangun, tapi untuk meningkatkan produksi pertanian yang hasilnya tetap mengalir ke negeri penjajah.
Emigrasi dilakukan untuk meredam tekanan populasi di Jawa, bukan karena kepedulian sosial.
BACA JUGA:Menyikapi Sejarah Benteng Otanaha: Jejak Pertahanan di Atas Danau Limboto!
Namun, justru dari kebijakan inilah lahir benih-benih perlawanan intelektual.
Dari bangku sekolah yang dibuka oleh Politik Etis, muncul tokoh-tokoh seperti Soetomo, Tjipto Mangunkusumo, hingga Ki Hajar Dewantara.
Mereka tidak menelan mentah-mentah etika palsu itu.
Mereka mengolahnya menjadi senjata pemikiran untuk membebaskan bangsanya.
BACA JUGA:Sejarah Benteng Somba Opu: Benteng Perlawanan dan Simbol Kejayaan Kerajaan Gowa!