KMB menjadi jalan tengah yang dijual ke publik dunia sebagai penyelesaian damai, padahal tak sedikit rakyat Indonesia terutama pejuang di lapangan yang merasa perjuangan mereka dirampas meja perundingan.
Sejak itu, Indonesia melangkah sebagai negara merdeka yang diakui secara internasional.
Tapi warisan KMB masih menggantung di ruang diskusi sejarah.
Apakah kita benar-benar merdeka pada 1945, atau baru sah secara hukum internasional pada 1949? Di ruang-ruang kelas sejarah, dua versi ini kadang saling bertabrakan.
BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Candi Jabung: Jejak Kejayaan Majapahit di Tanah Probolinggo!
Lebih dari itu, KMB menjadi contoh klasik bahwa diplomasi bukan sekadar soal negosiasi, tapi juga soal siapa yang memiliki tekanan lebih besar. Indonesia menang karena kombinasi keteguhan di medan juang dan kecakapan di meja runding. Namun tetap, pertanyaannya mengemuka: apakah KMB adalah deal yang kita menangkan, atau tekanan yang berhasil kita kendalikan?
Jawabannya, tergantung dari sisi mana Anda memandang sejarah. Tapi satu hal pasti—kemerdekaan tak pernah gratis, bahkan ketika yang ditawarkan adalah damai di atas meja bundar.