Selain itu, Kerajaan Banjar juga berperan penting dalam penyebaran Islam di Kalimantan, didukung oleh ulama-ulama yang datang dari Kesultanan Demak dan daerah lainnya.
Dalam aspek pemerintahan, Kerajaan Banjar membangun struktur administrasi yang lebih sistematis dan memperluas kekuasaannya.
Konflik dan Pengaruh Kolonial
Kerajaan Banjar tidak lepas dari konflik internal yang berkepanjangan, terutama dalam hal perebutan kekuasaan di kalangan keluarga kerajaan.
Ketegangan ini membuat Banjar rentan terhadap pengaruh asing, terutama Belanda, yang mulai memasuki wilayah Nusantara pada abad ke-17.
Melihat potensi strategisnya, Belanda berusaha menguasai jalur perdagangan melalui berbagai perjanjian dan tekanan militer.
BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Gunung Papandayan: Antara Letusan Dahsyat dan Warisan Alam!
BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Gunung Lawu: Gunung Sakral di Perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur!
Pada abad ke-19, ketegangan meningkat setelah wafatnya Sultan Adam pada 1857.
Perebutan takhta antara Pangeran Hidayatullah dan Pangeran Tamjidillah, yang didukung oleh Belanda, memicu terjadinya Perang Banjar (1859–1863), sebuah perlawanan rakyat Banjar terhadap penjajahan Belanda.
Meskipun perlawanan berlangsung sengit, Belanda akhirnya berhasil menguasai Kerajaan Banjar dan membubarkan kesultanan ini pada tahun 1860.
Warisan Budaya yang Terus Hidup
Walaupun Kesultanan Banjar sudah tidak ada, warisannya tetap hidup dalam budaya masyarakat Banjar. Tradisi Islam yang kuat, arsitektur khas, serta tarian dan bahasa Banjar terus dipelihara hingga kini.
BACA JUGA:Sejarah Raja Mataram Kuno Tinggalkan 45 Prasasti Selama Masa Pemerintahannya!
BACA JUGA:Bagaimana Sejarah Perang Dunia II dan Balasan Propaganda Cabul: Gambar Saru Tentara Sekutu!
Salah satu peninggalan penting dari Kerajaan Banjar adalah Masjid Sultan Suriansyah yang terletak di Banjarmasin.