Pemkot PGA

Karomah dan Keistimewaan Sunan Prapen Penobatan Penguasa-penguasa Islam di Tanah Air

Karomah dan Keistimewaan Sunan Prapen Penobatan Penguasa-penguasa Islam di Tanah Air

Karomah dan Keistimewaan Sunan Prapen Penobatan Penguasa-penguasa Islam di Tanah Air--Net

PAGARALAMPOS.COM - Dianggap sebagai salah satu tokoh agama paling berpengaruh di Jawa Timur, penguasa Giri ini telah banyak menyelamatkan para raja dari berbagai bencana dan konflik.

Perlu diperhatikan bahwa penyebaran Islam di Nusantara tidak terlepas dari kontribusi besar para Wali Songo, khususnya dalam kegiatan dakwah mereka di Pulau Jawa.

Di antara beberapa tokoh tersebut, Sunan Giri dan Maulana Malik Ibrahim memiliki pengaruh yang sangat signifikan di kawasan Gresik, di mana makam mereka hingga kini menjadi lokasi ziarah bagi umat Muslim.

Namun demikian, ada figura lain yang juga memiliki peran krusial dalam penyebaran Islam, terutama di bagian timur Nusantara, yaitu Sunan Prapen.

BACA JUGA:Mengungkap Fakta Mistis Gunung Pulosari, Benarkah Petilasannya Sunan Gunung Jati dan Syech Maulana Hasanudin?

Sebagai keturunan dari Sunan Giri, Sunan Prapen meneruskan misi dakwah hingga wilayah Lombok dan sekitarnya.

Walaupun kontribusinya sangat berarti, nama Sunan Prapen sering tidak seterkenal para Wali Songo lainnya.

Beliau adalah khatib sekaligus raja keempat Giri Kedaton, memimpin dari tahun 1548 hingga 1605 M.

Di bawah pemerintahannya, Giri Kedaton mencapai puncak kejayaannya sebagai pusat penyebaran Islam yang memberikan dampak pada daerah seperti Kutai, Gowa, Sumbawa, Bima, sampai Maluku.

Sunan Prapen, atau Syekh Maulana Fatikhal, adalah putra dari Sunan Dalem atau Syekh Maulana Zainal Abidin, serta cucu dari Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin).

BACA JUGA:Bagaimana Sejarah Masjid Sunan Kalijaga di Gunung Kidul yang Jadi Saksi Penyebaran Islam di Tanah Jawa

Ia lahir sekitar tahun 1412 Saka. Sunan Prapen merupakan penerus generasi keempat dinasti Giri (1507-1605 M).

Ketika dipimpin oleh Sunan Prapen, Giri Kedaton tidak hanya dikenal sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga sebagai wilayah dengan pemerintahan, kekuasaan, serta kekuatan politik.

Keadaan ini yang membuat Prabu Brawijaya V, Raja Majapahit terakhir, menginstruksikan Patih Maudara untuk menyerang Giri Kedaton, karena pimpinan Sunan Prapen menolak untuk tunduk kepada Majapahit.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait