Pemkot PGA

Saat Harga Manusia Lebih Murah dari Seekor Kuda

Saat Harga Manusia Lebih Murah dari Seekor Kuda

Saat Harga Manusia Lebih Murah dari Seekor Kuda--

PAGARALAMPOS.COM - Zaman dahulu manusia bisa dibeli seperti membeli roti di pasar pagi harga seseorang bisa jauh lebih murah dari seekor kuda perang yang gagah perkasa di sebuah lelang budak tubuh manusia dijajakan seperti barang bekas tanpa nama tanpa harga diri tanpa harapan dalam hidup. 

Di Mesir kuno dan Romawi manusia dijadikan properti pribadi siapa cepat dia dapat siapa kuat dia berkuasa nasib seseorang bergantung pada lisan majikan dan nasib bisa berubah dalam hitungan hari bahkan jam sekalipun. 

Ada seorang ibu yang dijual terpisah dari anaknya karena majikannya hanya ingin satu tenaga perempuan tanpa beban keluarga dan di sisi lain seekor kuda disimpan dengan selimut mahal diberi makan apel dan diberi nama bangsawan. 

Harga manusia ditentukan oleh kondisi tubuh warna kulit dan jenis kelamin semakin muda dan sehat semakin mahal tapi tetap tidak lebih mahal dari kuda pacu yang bisa menang lomba dan menghasilkan uang bagi pemiliknya.

BACA JUGA:Benarkah Sejarah Itu Penuh Rekayasa Para Pemenang?

Di pasar Afrika abad pertengahan budak dijual di bawah harga kambing gemuk mereka tidak punya pilihan dan tidak bisa berkata tidak karena suara mereka dianggap tak lebih dari dengusan angin di telinga penguasa lalu masuklah zaman kolonial di mana manusia dibungkus dalam peti kayu dikirim lintas lautan seperti kargo mati ratusan orang tewas sebelum sampai di pelabuhan hanya karena dianggap lebih murah kirim banyak daripada kirim aman. 

Di Amerika Selatan seorang budak dewasa dijual dengan harga setara satu pasang sepatu kulit sementara seekor kuda perang bisa ditukar dengan dua bidang tanah dan surat hak milik para bangsawan mencatat nama kuda mereka dengan tinta emas sementara nama budak hanya dicoret dengan pensil di buku kas. 

Perdagangan manusia menjadi ladang emas bagi kerajaan besar mereka membangun istana dari jeritan yang tak pernah terdengar membangun peradaban dari air mata yang mengering di bawah matahari.

Dunia berpura-pura tidak tahu selama ratusan tahun sejarah hanya menulis pemenang dan lupa menulis penderita bahkan di buku pelajaran sekolah kita kisah ini hanya muncul sebagai catatan kaki yang dibaca sambil lalu oleh siswa yang mengantuk. 


Saat Harga Manusia Lebih Murah dari Seekor Kuda--

Nama-nama korban tidak pernah tercatat dengan lengkap hanya disebut budak tanpa identitas padahal mereka punya mimpi keluarga dan cinta yang dirampas tanpa ampun oleh sistem yang dianggap normal saat itu dan hingga kini bayang-bayang masa lalu itu masih tertinggal dalam tatanan sosial modern. 

Banyak negara yang maju dari keringat budak yang tak sempat menyentuh kemerdekaan mereka mati dalam penjara terbuka yang disebut ladang dan tambang lalu hilang dari sejarah seperti debu yang ditiup angin kekuasaan.

Peradaban yang kita banggakan hari ini sebagian lahir dari perbudakan yang disusun rapi dalam catatan kerajaan lalu dibungkam oleh waktu dan lupa.

Kini kita mengaku modern dan bebas tapi kenyataannya masih ada jejak masa lalu yang belum benar-benar dibersihkan di banyak tempat manusia masih diperjualbelikan diam-diam tidak di pasar terbuka tapi di lorong-lorong sunyi dan layar-layar gelap perdagangan manusia belum punah hanya berubah rupa dan semakin sulit dilacak. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: