Mengungkap Makna Tugu Pemandengan, Penanda Awal Kota Solo yang Sarat Nilai Sejarah
Mengungkap Makna Tugu Pemandengan, Penanda Awal Kota Solo yang Sarat Nilai Sejarah-Foto: net -
PAGARALAMPOS.COM - Tak banyak yang mengetahui bahwa penanda titik nol kilometer Kota Solo berada tepat di sebuah monumen bersejarah bernama Tugu Pemandengan.
Letaknya yang strategis di antara dua lokasi ikonik—Pasar Gede dan Balai Kota Surakarta—menjadikannya pusat kota yang sarat dengan nilai historis dan simbolik.
Tugu ini merupakan peninggalan masa Keraton Kasunanan Surakarta, terutama pada era pemerintahan Pakubuwono VI hingga Pakubuwono X.
Pada zamannya, Tugu Pemandengan digunakan oleh sang raja (Sinuhun) sebagai titik pandang dari Bangsal Pagelaran (Sitihinggil) untuk menyaksikan suasana kota. Konon, tugu ini juga dijadikan tempat bermeditasi secara spiritual oleh raja.
Dari sudut pandang kosmologi Jawa, posisi Tugu Pemandengan sangat bermakna.
BACA JUGA:Menguak Fakta Sejarah Rengasdengklok: Penculikan Demi Kemerdekaan!
BACA JUGA:Sejarah Monumen Kebulatan Tekad: Simbol Perlawanan Rakyat Ambarawa Menolak Penjajahan Kembali!
Di sebelah timurnya terdapat Pasar Gede, lambang kehidupan duniawi dan pusat ekonomi rakyat.
Sementara itu, di sebelah barat berdiri Masjid Agung Surakarta, yang menjadi simbol hubungan spiritual antara manusia dan Tuhan.
Tugu Pemandengan berdiri di antara keduanya, mewakili harmoni antara dua dimensi kehidupan tersebut.
Pada masa penjajahan Belanda, tugu ini pun memiliki nilai strategis karena menghadap ke arah pusat administrasi kolonial, yang sekarang dikenal sebagai Balai Kota Solo.
BACA JUGA:Menyikapi Sejarah Museum Joang '45: Jejak Perjuangan di Tengah Jakarta!
BACA JUGA:Sejarah Pabrik Gula Kedaton yang Sebagian Bahan Bakunya dari Bekas Keraton Plered
Hal ini menunjukkan bahwa Tugu Pemandengan bukan hanya memiliki nilai spiritual dan budaya, tetapi juga berperan sebagai lambang kekuasaan dan pengaruh politik.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
